Oleh: Rapi, S.Pd – Guru SDN 4 Lepar/Peserta Pelatihan Koding dan KA Fase C Bangka Selatan 2025

Dunia teknologi berkembang tidak menunggu siapapun. Yang enggan beradaptasi maka akan tertinggal. Kecerdasan Artifisial (AI) misalnya. Tanpa disadari, hampir tiap waktu kita berhubungan dengan AI. Mulai dari fitur prediksi teks cerdas, pengenalan wajah, hingga sidik jari di smarphone, semua merupakam fitur yang dikembangkan oleh AI.

Sebagai seorang guru yang aktif menulis, saya pun merasa cemas. Benarkah Kecerdasan Artificial (AI) akan menggatikan tugas manusia? Apakah guru akan tergeser? Apakah para penulis akan kehilangan daya cipta karena ketergantungan pada mesin? Khawatiran seperti itu tumbuh begitu kuat.

Begitu pula dengan istilah “Koding”. Sebagian guru mungkin menganggap koding sebagai sesuatu yang sulit. Rumit, penuh simbol, dan mungkin akan susah untuk diajarkan pada siswa, terutama siswa SD. Sebuah wilayah yang bukan milik guru-guru daerah, terutama guru yang berada diwilayah kepulauan dengan segala kertebatasannya.

Baca Juga  Efektivitas Regulasi Pengelolaan Limbah Pabrik Sawit untuk Melindungi Hak Masyarakat

Akan tetapi, sebuah pelatihan Koding dan Kecerdasan Artificial untuk guru membuka pintu baru. Kegiatan yang dilaksanakan pada 1 september hingga 4 desember 2025 ini, dilaksanakan di SMP Negeri 1 Air Gegas. Sebanyak 11 kali pertemuan, kegiatan ini diikuti beberapa sekolah mulai dari jenjang SD, hingga SMA/SMK di Bangka Selatan.

Melalui kegiatan ini, pandangan yang tadinya samar perlahan terasa cerah. Ternyata AI bukanlah makhluk asing yang mengancam kreativitas seorang guru. Namun justru hadir sebagai alat bantu. Layaknya lampu yang menerangi meja kerja, ia hadir membantu proses belajar lebih efisen dan tidak mengambil alih jati diri seorang pendidik. Segala keputusan tetap milik kita, kreativitas tetap lahir dari pengalaman dan empati seorang guru.

Baca Juga  Labelisasi Kemiskinan: Tinjauan Sosiologis atas Kebijakan Pemasangan Stiker “Keluarga Miskin” pada Penerima Bansos

Beruntungnya bapak ibu guru SD peserta pelatihan bisa bertemu dengan Bu Eftri Yenita dan Pak Marozi yang luar biasa sebagai fasilitator. Mereka membantu memecah ketakutan dengan cara-cara yang sederhana.

Koding tidak selalu berarti mengetik barisan kode rumit. Melainkan cara berpikir terstruktur, runtut, dan sistematis. Seperti langkah-langkah yang dilakukan seseorang saat mengajari murid menghafal doa, menyusun jadwal piket, atau mengatasi masalah kecil dalam kehidupan sehari-hari. Koding, rupanya jauh lebih dekat dari pada dugaan awal.

Ada satu momen yang menjadi titik balik. Yakni ketika para peserta berhasil menggunakan aplikasi AI dengan tepat sasaran. Bukan lagi sekadar coba-coba, tetapi benar-benar dipraktikkan untuk kebutuhan pembelajaran. Saat itulah muncul perasaan baru, bahwa teknologi dapat menjadi jembatan, bukan jurang. Membantu, bukan menggantikan. Mendorong kreativitas, bukan mematikan.

Baca Juga  Opini: Menggali Antusiasme Pembaca terhadap Strategi Pemenangan Pilkada Serentak