Lidah di Panggung, Hati di Ruang Gelap
Mereka lupa suara rakyat bukan gema yang bisa disewa untuk hari tertentu.
Amanah bukan tirai panggung, melainkan beban yang kelak ditimbang satu persatu.
Setiap dusta akan kembali sebagai saksi yang tidak mengenal kasihan.
Setiap tipu akan menjelma batu yang mencari pemiliknya.
Rakyat tak menuntut pemimpin tanpa cacat, hanya jujur dalam langkahnya.
Bukan aktor yang pandai menangis di podium, namun kering hatinya saat mengambil keputusan.
Negeri ini lelah pada senyum plastik yang mudah pecah saat angin kritik berhembus.
Lelah pada salam hangat di luar, tapi dingin menusuk di ruang rapat.
Lelah pada janji yang berkobar saat kamera hidup, lalu padam ketika kepentingan datang.
Maka biarlah kita menunggu lahirnya lisan yang tak membelah diri.
Pemimpin yang menjadikan kebenaran sebagai arah, bukan alibi.
Pemimpin yang takut kepada Allah lebih dari takut kehilangan panggung.
Pemimpin yang setiap katanya adalah cahaya, bukan bara yang membakar kepercayaan.
Ketika hari itu tiba, bangsa ini tak lagi menjadi penonton drama yang tak ingin selesai.
(Toboali, 5 Desember 2025)
Penulis puisi adalah seorang pengajar di SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan
