Oleh: Hendrawan, S.T., M.M. – Alumnus Program Magister Universitas Pertimba

Seseorang terkadang terjebak pada kondisi rela menderita demi popularitas serta mempertahankan eksistensi dan mempertuhankan polarisasi. Berbagai aspek rasional kehidupan sosial masyarakat terkadang harus tergadaikan akibat dahaga di tengah samudera pujian.

Hanya sekadar butuh validasi saja oleh lingkungan sekitar, termasuk oleh netizen di era digital saat ini. Like, “Mantap”, “Keren”, “Luar Biasa”, dan lain sebagainya. Secara psikologi hal tersebut memiliki nilai signifikansi positif untuk mendongkrak kepercayaan diri kreator, dengan kata lain, sebagai motivasi.

Di sisi lain, bias polarisasi mengintai kesenjangan antara eksistensi dengan reward. Sehingga semakin lama hal serupa berulang, membentuk suatu fenomena “Menang Segek, Kalah Pancak”, dalam bahasa daerah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Baca Juga  Bipolar dan Mood Swing Itu berbeda