Adapun makna frasa tersebut adalah “secara popularitas diakui unggul, namun tidak sepadan dengan reward yang diperoleh atas popularitas tersebut”. Fenomena ini sangat dekat dengan teori narsistik.

Dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition) seseorang dikatakan mengalami gangguan kepribadian narsistik jika memiliki lima dari sembilan ciri, yaitu merasa paling hebat, seringkali memiliki perasaan iri hati kepada orang lain, memiliki fantasi secara berlebihan terhadap kesukesan dan kelebihannya, ingin dikagumi secara berlebihan, kurang memiliki empati terhadap orang lain, selalui ingin memperoleh keistimewaan, memiliki sikap angkuh, sensitif terhadap kritik, memiliki kepercayaan diri secara semu, memiliki keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki keunikan dan hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu (dalam : Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental, Dewi Purnama Sari, 2021).

Baca Juga  Bincang-Bincang Pendidikan Bersama Kepala SMA/SMK se-Basel, Rektor Universitas Pertiba Sampaikan Hal Ini

Lain halnya dengan para kreator konten, baik  yang berorientasi pada profit (profit oriented) maupun yang tidak berorientasi pada profit (non profit oriented) atas kreasi pada media sosial yang dikelolanya, tidak berlaku frasa “Menang Segek, Kalah Pancak”.