Ketika malam datang, cerita baru dimulai. Malam-malam tersebut memberikan kesempatan bagi Azka untuk menjelajahi kota yang kini ia singgahi sementara.

Ia merasa sayang jika malam hanya dihabiskan dengan tidur dan rasa lelah setelah seharian bekerja. Kota ini menyimpan banyak kisah, dan Azka ingin merasakan sedikit dari itu, meski hanya waktu yang singkat.

Suatu malam, saat Azka sedang berada di sebuah warung kopi, ia mendengar seseorang memanggil namanya.

“Azka? ”

Ia berbalik, kemudian tersenyum lebar.

Itu adalah Arif kawan kuliahnya dahulu. Mereka telah berpisah lama hampir satu setengah tahun, masing-masing menjalani kehidupan dan pekerjaan mereka.

“Wow, sudah lama sekali kita tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?”

“Apa yang kamu lakukan di sini? ”

“Kamu sendiri?”

Azka dengan cepat langsung menjabat tangan teman dekat semasa kuliahnya itu, sembari berkata “Alhamdulillah baik Rif, kabar kamu bagaimana juga?”

“Iya aku sendirian, untuk sementara waktu aku ditugaskan di unit kerja baru disini.”

Baca Juga  Demi Kau, Kutenggak Racun Itu!

Malam itu, mereka bercerita cukup lama. Mengenai masa kuliah, dosen yang killer, impian yang berubah, dan kenyataan hidup yang tidak selalu sesuai harapan.

Pertemuan tersebut membuat Azka menyadari satu hal yang penting. Waktu mungkin bisa memisahkan, tetapi kenangan indah akan selalu menemukan jalannya kembali.

Beberapa malam setelah itu, Azka memutuskan untuk pergi ke bioskop. Ia duduk seorang diri di kursi yang nyaman, lampu mulai redup perlahan, dan layar besar mulai menyala. Dalam kegelapan ruangan tersebut, Azka merasakan ketenangan.

Ia menyaksikan film yang dipilihnya, tidak hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk memberikan istirahat pada pikirannya yang lelah.

Azka juga terpesona dengan makanan-makanan baru. Dari warung kaki lima hingga kedai kecil. Ia merasakan berbagai tingkat kepedasan, kuah yang hangat dan menentramkan, serta kudapan manis. Setiap sajian seakan menyimpan sebuah kisah.

Tentang pengelola warung yang sangat bersahabat.Tentang pengunjung yang datang sendirian seperti dirinya.Tentang kota yang perlahan-lahan menerimanya tanpa banyak bertanya.

Baca Juga  Bara yang Membara: Suara Hilang Tetap Bergema

Hari demi hari terus berjalan. Pada mulanya, setiap momen begitu sulit bagi Azka, seolah ia terjebak oleh rasa malu dan ketakutan. Namun, tanpa disadarinya, waktu itu bergerak semakin cepat, hingga pada akhirnya tiba saatnya bagi Azka untuk kembali ke tempat kerja sebelumnya.

Entah mengapa, Azka merasa begitu berat melewati hari terakhirnya di unit baru itu.

Sebelum benar-benar berpamitan, Kak Dera menghampirinya dan menitipkan pesan dengan nada tenang namun penuh makna.

“Apa pun yang sudah kamu dapatkan dan pelajari di sini, jangan lupa diterapkan juga di tempat kerjamu nanti. Dengarkan dan turuti apa yang disampaikan rekan kerjamu di sana, karena setiap tempat punya caranya sendiri untuk mendewasakan kita.”

Azka mengangguk pelan. Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa dalam. Ia sadar, yang ia bawa pulang bukan hanya pengalaman kerja, melainkan nilai-nilai tentang sikap, kebersamaan, dan kerendahan hati bekal yang akan menemaninya ke mana pun ia melangkah selanjutnya.

Baca Juga  Bajak Laut dan Jambul Nanas

Azka juga mengucapkan terima kasih atas ilmu, pengalaman, pembelajaran, serta arahan dan bimbingan dengan sabar dibagikan oleh rekan-rekan kerja di unit barunya, selama ia ditempatkan di sana. Setiap nasihat, setiap koreksi, dan setiap bantuan kecil menjadi bagian penting dari proses belajarnya.

Tak lupa, Azka pun memohon maaf dengan tulus apabila selama bertugas terdapat kata-kata yang kurang berkenan atau perbuatan yang tanpa sadar menyinggung. Ia berharap, meski kebersamaannya singkat, kenangan yang tertinggal tetaplah baik dan penuh makna.

Sejak saat itu, masa tugas Azka yang sementara di unit baru berubah menjadi cerita dan pengalaman berharga dalam perjalanan hidupnya.

Setiap momen yang ia lalui di sana terasa berarti, dan setiap orang yang ia temui menjadi bagian penting dari kisahnya.

Dengan tulus, Azka pun berkata kepada rekan-rekan di unit barunya, “Semoga di mana pun kita berada, kedekatan dan kebersamaan yang telah terjalin tetap hidup dan tak pernah terputus.”