Legitimasi Publik, Tidak Perlu Direkayasa
Apakah publik akan memberikan pujian ketika jalan banyak yang rusak? Apakah warga akan memberikan acungan jempol ketika pengolaan birokrasi seenak-enaknya?
Apakah masyarakat akan memberikan tepuk tangan? Apakah publik akan memberikan legitimasi?
Siapa pun yang hidup di negeri ini, dari Miangas hingga Rote mengakui bahwa Bapak Proklamator adalah Bung Karno. Warga masyarakat pun ingat Bapak Pembangunan adalah HM Soeharto mantan Presiden kedua kita.
Pengakuan dari publik untuk seorang pemimpin lahir secara alamiah dan mengakar dalam jiwa raga publik sesuai dengan prestasi kerja yang ditorehkannya untuk kepentingan warga masyarakat.
Mengalir dalam raga publik. Terlegalitas dalam kepala publik. Semuanya karena kinerjanya. Semuanya karena usahanya untuk mensejahterakan masyarakat.
Percayalah, publik akan memberikan pengakuan untuk para pemimpin yang berkerja tulus untuk masyarakat.
Yakinlah masyarakat akan berterimakasih kepada pemimpin yang ikhlas bekerja untuk kesejahteraan warga. Berjuang untuk kepentingan khalayak ramai.
Kalau sudah demikian, maka pemimpin itu akan dicintai oleh publik. Akan dirindukan oleh masyarakat. Akan dicatat sejarah dan zaman.
Dan kalau sudah demikian, pemimpin tersebut akan mendapat legalitas dari publik. Akan mendapat pengakuan dari warga. Insyaallah, suara langit pun meridai.
Penulis tiba-tiba teringat dengan sahabat penulis tadi yang tidak mau diberikan pujian yang berlebihan. Apalagi mengakui dirinya sebagai yang terbaik.
Sungguh seorang sahabat yang amat rendah hati dan tidak membutuhkan pujian. Yang terbersit dalam hidupnya adalah berkarya dan berkarya untuk mencerdaskan publik.
Dan itu lebih istimewa bagi dirinya dibandingkan untuk memperoleh pencitraan semu dan sesaat.
“Saya lebih menyukai kritik paling tajam dari orang cerdas daripada persetujuan tanpa pemikiran dari massa.” – Johannes Kelper
