Serial Keluarga Ummi: Lampu Ayam
“Kak, mana lampuku, mau kupasang,” kata Alda.
“Ini, ambillah,” jawab Izzah, sang Kakak.
“Eh, koq lampu ayam?” tanya Ummi agak bingung. “Kenapa lampu ayam?” tanya Ummi lagi.
“Sebab sinarnya gak putih, Mi. Merah apa oren gitu warnanya, kayak lampu yang di mesin tetas ayam, makanya disebut lampu ayam,” jelas Alda.
“Oh, kirain kamu ngidup ayam, tumben-tumbennya. Tapi gak ada kelihatan ayam di sekitaran kost, apalagi kandang ayamnya.”
“Mana bisa,” bantah Alda.
“Bi, bubur bayi artinya bubur untuk bayi, obat mata itu obat untuk mata, rumah singgah artinya rumah untuk singgah, lampu belajar adalah lampu untuk belajar,” papar Ummi pada Abi.
“Lah, kalau lampu ayam?” tanya Abi.
“Berarti lampu untuk ayam, hahaha,” sambung Ummi sambil tertawa.
“Berarti yang di dalam rumah ini adalah …?” tanya Abi lagi.
“Ayam ….” Tawa Ummi pun dak bisa ditahan lagi. Maka terbayanglah bila mereka semua bagaikan ayam, tapi boong.
