Pantai
Ia bertanya kepada dirinya sendiri tanpa tahu jawabannya.
Diperhatikannya lagi di sekelilingnya. Kali ini perhatiannya lebih luas. Pandangannya diarahkan ke bangunan gazebo yang ada. Di sana dilihatnya lebih memprihatinkan. Gazebo-gazebo yang ada nyaris tidak terlihat lagi. Rumput-rumput liar seolah sudah menguasai gazebo-gazebo tersebut. Gazebo-gazebo itu bagaikan sebuah tawanan yang tidak bisa keluar dari jeratan rumput. Rumput-rumput itu dengan leluasa menari ketika ditiup angin. Tinggi sang rumput sudah hampir menyentuh atap gazebo.
“Apakah tidak ada petugas kebersihan di sini? Atau ada petugasnya, tapi tidak ada anggarannya? Atau……..?”
Pertanyaan-pertanyaan itu secara beruntun muncul dari dalam hatinya tanpa bisa ia dapatkan jawabannya.
Pandangan sang pelancong beralih ke beberapa bangunan yang terbuat dari kayu berdinding dan beratap terpal hitam. Bangunan-bangunan itu tidak kalah menyedihkan. Dindingnya sudah tidak utuh lagi, banyak lobang menganga. Atapnya pun setali tiga uang, bahkan nyaris sudah ludes.
Sang pelancong teringat dahulu bangunan-bangunan itu tempat menjual aneka makanan dan minuman bagi para wisatawan yang datang ke pantai itu. Terlihat masih ada sisa-sisa papan kecil yang menuliskan beberapa harga makanan dan minuman yang dijual. Tumpukan kulit kelapa yang mulai kering berserakan di sekitar bangunan-bangunan tersebut.
Kini bangunan-bangunan itu sudah tidak terawat lagi. Kursi kayu panjang sudah disusun dengan posisi terbalik. Bangunan itu sekarang hanya ditempati oleh beberapa binatang liar. Binatang-binatang itu seolah sudah memiliki bangunan. Mereka tidak perduli, apakah yang punya bangunan mengizinkan mereka untuk tinggal di sana. Mereka dengan santainya tidur, makan bahkan buang hajat dalam bangunan itu.
Keadaan pantai itu diperparah dengan kualitas airnya yang mulai keruh. Padahal dahulu pantai itu terkenal dengan kejernihan airnya. Dahulu kalau berkunjung ke pantai itu, para wisatawan dapat melihat batu-batu besar di bawah air dengan jelas. Rumput-rumput dalam air pun dapat dilihat bahkan ikan-ikan kecil yang berenang di antara bebatuan juga bisa disaksikan dengan mata telanjang.
*****
Beberapa saat kemudian pelancong itu menghidupkan motornya, kemudian memutar gas motornya meninggalkan pantai yang sudah tidak dirawat itu. Ia pergi meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Sepanjang perjalanan pulang ia menyaksikan berpuluh-puluh kapal di tengah laut sedang beraktivitas.
Ia tidak tahu aktivitas apa yang sedang dilakukan kapal-kapal itu, tapi samar-samar ia melihat kapal-kapal itu seperti mengeruk sesuatu dari dalam laut. Ia juga tidak tahu dari mana asal kapal-kapal itu, yang pasti beberapa tahun yang lalu ketika ia datang ke pantai ini, kapal-kapal itu belum ada. Entah kebetulan atau tidak semenjak kapal-kapal itu ada di sekitar pantai, air pantai menjadi keruh seperti sekarang ini.
Sepeda motornya meliuk-liuk menyusuri jalan setapak yang sudah ditumbuhi rumput liar di sampingnya. Jalan menuju pantai yang dulunya terawat itu sudah mulai rusak. Aspalnya sudah mulai mengelupas, tanah merah mulai menguasai jalan. Sang pelancong terus melaju meninggalkan asap hitam di area pantai.
*****
Bionarasi Penulis
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
