Oleh: Yan Megawandi – Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Selasa siang itu (6/1/2026), Masjid Agung Sungailiat kembali menjadi saksi sekaligus ruang perjumpaan. Bukan perjumpaan politik, bukan pula rapat resmi dengan kursi berderet dan spanduk besar. Hanya peristiwa sederhana: selesai salat Zuhur berjemaah, sebagian kecil jamaah berkumpul. Ada buku yang dibagikan.

Namun justru dari peristiwa yang tampak sepele itulah, sebuah pesan besar tentang ingatan, bahasa, dan jati diri perlahan menyembul ke permukaan.

Buku itu cukup tebal yaitu 546 halaman. Judulnya membuat orang berhenti sejenak sebelum membuka halaman pertama: Kelumus Bahasa Melayu Lokal Bangka. Sebuah kamus. Tebal, berat, dan mungkindi zaman serba cepat ini akan dianggap tidak praktis. Tapi justru di situlah letak keberaniannya.

Baca Juga  Menunggu Gebrakan Bupati Basel: Dongkrak PAD, Langkah Berani Menuju Kemandirian Daerah

Membuka Kelumus, Merawat Ingatan

Yang membagikan buku itu bukan panitia, bukan pejabat, bukan pula sponsor. Ia adalah penulisnya sendiri: H. A. Syarnubi, seorang pensiunan guru, sekaligus tokoh masyarakat di Kabupaten Bangka. Ia berdiri sederhana, membagikan hasil kerja bertahun-tahun, seolah berkata: inilah yang bisa saya tinggalkan.

Kamus ini memuat 17.360 lema, kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, kata majemuk, hingga frasa yang lengkap dengan definisi, contoh, dan penjelasan. Dalam dunia leksikografi, lema adalah pintu masuk. Dalam kehidupan kebudayaan, lema adalah penanda: bahwa sebuah kata pernah hidup, pernah diucapkan, pernah bermakna.

Syarnubi, Pria kelahiran Kampung Bukitlayang, 7 April 1960 adalah sarjana Pendidikan jebolan Universitas Terbuka. Dalam tulisan sekapur sirihnya, ia membagi dialek Bahasa Melayu Lokal Bangka di Kabupaten Bangka ke dalam beberapa logat atau dialek yakni Sungailiat, Belinyu, Cina, Mapur, Maras, dan Tengah. Pembagian ini bukan untuk memecah, melainkan untuk merawat keragaman yang selama ini sering dianggap sama dan disederhanakan.

Baca Juga  Pola Pikir dan Cara Bertindak Pembangunan Daerah Kepulauan

Bahasa, bagi Syarnubi, bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah akar. Karena itu ia menyampaikan harapannya agar Bahasa Melayu Lokal Bangka suatu hari perlu mendapat perhatian yang selayaknya, misalnya saja melalui muatan lokal di sekolah-sekolah.

“Agar anak-anak tetap mengetahui akar budayanya,” ujarnya siang itu.

“Sebab bahasa memegang peran penting dalam membentuk jati diri seseorang.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru kesederhanaannya membuat ia terasa jujur.