Menariknya, kamus ini terbit bukan karena proyek besar atau program strategis. Syarnubi mengaku telah mencoba mengajukan bantuan ke berbagai pihak. Namun satu per satu pintu tertutup. Hingga akhirnya, Yayasan Sayang Babel Kite bersedia membiayai penerbitannya. Buku ini kemudian dicetak oleh UBB Press Bangka.

Rektor Institut Pahlawan 12, Darol Arkum yang turut hadir di acara itu menyatakan kekagumannya pada semangat Syarnubi yang masih terus menulis dan berkarya di kesehariannya. Menurut Darol tak ada jalan lain dalam mendorong upaya pelestarian dan pengembangan budaya antara lain bahasa daerah yaitu dengan melakukan kolaborasi.

Di acara itu memang tak ada gegap gempita. Tak ada seremoni berlebihan. Tapi di sanalah kita bisa belajar bahwa sering kali kebudayaan justru bertahan bukan karena kebijakan besar, melainkan karena kegigihan orang-orang yang memilih bertahan dalam sunyi.

Baca Juga  Petani Sawah dan Masa Depan Kita

Kamus ini adalah edisi kedua. Edisi pertama diluncurkan pada tahun 2024, dengan isi sekitar separuh dari edisi terbaru ini. Syarnubi tampak sangat gembira. Bukan karena merasa tugasnya telah selesai, tetapi karena merasa berproses. Ia masih ingin menyempurnakannya. Sebab bahasa, seperti kehidupan, tak pernah benar-benar final.

Kata pengantar kamus ini ditulis oleh Asyraf Suryadin, seorang birokrat, akademisi, sekaligus Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pengantarnya, Asyraf mencatat bahwa setidaknya telah ada lima kali upaya penulisan kamus di Bangka dan Belitung.

Dimulai dari Kamus Bahasa Daerah Tempilang Bangka karya A. Rani (1992), lalu Kamus Daerah Indonesia Bangka dan Belitung karya Hartini dkk. (2002), Kamus Kecil Bahasa Melayu Belitung karya Salim Yan Albert Hoogstad dan Tjik Erna (2007), Kamus Bahasa Melayu Bangka–Indonesia terbitan Kantor Bahasa Babel (2018 dan 2020), hingga kini Kelumus Bahasa Melayu Lokal Bangka karya Syarnubi.

Baca Juga  Jejak Angin di Halaman Waktu: Ziarah Batin Pertemuan Tanah Kelahiran dan Perantauan

Daftar itu penting, bukan untuk berbangga, tetapi untuk mengingat bahwa bahasa daerah ini berkali-kali hampir tenggelam digilas zaman, lalu diselamatkan oleh kerja-kerja sunyi yang jarang mendapat sorotan.

Istilah “kelumus” sendiri dijelaskan Syarnubi dengan cara yang sangat lokal dan sangat filosofis. Kelumus adalah selaput tipis yang membungkus janin atau bayi hewan saat dilahirkan. Selaput itu biasanya dibersihkan dengan cara dimakan atau dijilati oleh induknya agar sang anak bisa bernapas dan bergerak leluasa.

Filosofinya sederhana tapi tenyata cukup mendalam. jika kita ingin memperoleh pengetahuan, kita harus membuka kelumus itu. Membaca dengan saksama. Mengupas satu demi satu lapisan makna.

Kamus ini, pada akhirnya, adalah langkah awal. Ia belum sempurna. Ia mungkin belum populer. Bahkan bisa jadi dianggap “kurang menarik” di tengah gempuran konten digital yang serba cepat dan dangkal.

Baca Juga  Mengapa Harus Ki Hajar Dewantara? 

Namun kelak, justru dari kerja-kerja semacam inilah, identitas dan karakter daerah menemukan penandanya. Bahasa bukan hanya alat bicara, tetapi arsip ingatan kolektif. Dan siapa yang merawat bahasa, sesungguhnya sedang merawat masa depan.

Siang itu, di Masjid Agung Sungailiat, setelah salat Zuhur, sebuah kelumus dibuka. Pelan-pelan. Dengan niat baik. Dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, manfaatnya akan benar-benar terasa. Salam Takzim.