Jejak Angin di Halaman Waktu: Ziarah Batin Pertemuan Tanah Kelahiran dan Perantauan

Oleh: Yan Megawandi – Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Setiap angin yang berembus dari Sungailiat selalu membawa aroma asin laut dan bunyi desir yang sulit dilupakan. Di antara semilir itu, seorang anak muda menanamkan kata-kata menjadi bunga yang tumbuh di halaman waktu. Ia bernama Laudia Syahrah, atau sering disapa sebagai Dira. Dan kumpulan puisinya ini: Jejak Angin di Halaman Waktu, adalah sebuah ziarah batin yang lahir dari pertemuan antara tanah kelahiran dan ruang perantauan Bangka-Jakarta.

Sebagai penikmat hal-hal yang beraroma keindahan dan sering mengamati denyut kehidupan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung, saya membaca puisi-puisi Dira bukan hanya sebagai karya sastra, melainkan juga sebagai bentuk “kesaksian generasi muda” yang sedang belajar memahami dirinya dan dunianya.

Baca Juga  Bumbu 3: Rasa Syukur di Balik Kesederhanaan

Dari setiap kata dan bait ke bait dituliskannya, kita seakan menemukan getar kejujuran yang lembut, tentang rindu, kehilangan, cinta, dan identitas. Semua itu lahir dari seorang anak Sungailiat yang kini tangah menatap langit Jakarta, namun tetap membawa aroma laut Bangka di dalam nadinya.

Puisi-puisinya yang berjumlah cukup banyak yaitu 117 seperti riak ombak kecil di bibir pantai: tak berteriak, tapi meninggalkan jejak. Terkesan diam namun mampu mengingatkan. Di dalamnya, kita bisa mendengar percakapan halus antara masa lalu dan masa depan.

Antara rumah yang jauh dengan ruang yang kini ia diami. Dalam “Bangka Berseri”, misalnya, Laudia tidak sekadar menulis tentang keindahan alam, tetapi tentang ingatan. Tentang bagaimana tanah kelahiran membentuk arah, cara pandang dan rasa. Ia menulis dengan kesadaran sebagai seorang perantau yang tahu bahwa keindahan selalu disertai kehilangan, dan bahwa setiap perjalanan sejatinya adalah upaya untuk pulang.

Baca Juga  Musim yang Tak Kutawar