Jejak Angin di Halaman Waktu: Ziarah Batin Pertemuan Tanah Kelahiran dan Perantauan
Bahasa yang ia pilih tidak rumit, sederhana namun punya daya pancar. Ada kehalusan yang mengingatkan kita pada suara seorang ibu di sore hari. Di situ pula seakan ada kepolosan yang terasa seperti mata anak-anak yang menatap laut untuk pertama kali.
Tetapi di sela kesederhanaan itu, ada pula kedalaman yang menuntun pembaca untuk merenung, tentang arti bagaimana menjadi muda di zaman yang serba cepat, dan tentang bagaimana kata terkadang akan bisa menjadi tempat berlindung dari kebisingan dunia.
Dira dengan tekun dan konsisten selama dua tahun ini membuat puisi dan rutin mengirimkannya ke redaksi Timelines untuk dipublikasikan. Ketekunan mengasah diri adalah salah satu modal untuk bergerak maju dan konsisten akan mengantarkannya pada keteguhan pandangan.
Buku ini, bagi saya, bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan juga cermin perjalanan batin seorang anak daerah yang sedang mencari makna di tengah riuhnya ibu kota. Ia menulis bukan untuk kemegahan, tapi untuk mengingat. Agar suara lembut dari pantai di bibir Sungailiat yang tak tenggelam di antara belantara gedung-gedung Jakarta.
Dira telah membuktikan bahwa puisi masih mungkin tumbuh dari tanah yang terkadang dianggap kecil dan sederhana namun dengan hati yang besar.
Bahwa dari tepian pulau, kita bisa menyapa dunia dengan bahasa yang indah dan jujur. Semoga buku ini menjadi awal dari perjalanan panjangnya di dunia sastra, dan menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa setiap angin, sekecil apa pun, selalu meninggalkan jejak di halaman waktu.
