Oleh: Yan Megawandi

Dahlan Iskan yang tulisan dan karyanya banyak dipuji orang suatu ketika menulis tentang perjuangan seorang anak muda yang terpaksa kandas di kota Surabaya.

Tepatnya di Gang Dolly. Lokalisasi yang sering diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Anak muda yang juga sarjana teknik elektro ini bersama teman-temannya membuat kegiatan ekonomi agar para pelacur tak kembali ke profesi tertuanya itu.

Gagalnya kegiatan itu ternyata karena masalah birokrasi. Gerakan anak muda yang masih idealis itu dianggap menyaingi apa yang telah ada selama ini.

Mereka dianggap menjadi pesaing dan bukan mitra birokrasi walaupun niatnya sangat mulia. Kalau sudah dianggap sebagai saingan maka itu akan berat bagi anda untuk memperbaiki posisi.

Baca Juga  Ethno-VR dan Eco-Mix: Integrasi Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Pembelajaran Berkelanjutan

Dan itulah yang terjadi dengan para anak muda ini. Situasi lebih berpihak pada birokrasi dan orang-orang di dalamnya (Ordal).

Ada lagi kisah seorang calon mahasiswa kurang mampu yang terpaksa mesti menguburkan niatnya melanjutkan ke bangku kuliah. Di daerahnya memang ada semacam beasiswa bagi para pelajar yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan. Sayangnya tak terlalu jelas kepada siapa beasiswa itu harus diberikan.

Mahasiswa  atau pelajar yang tidak mampu atau mahasiswa/pelajar berprestasi. Atau kedua-duanya. Tidak mampu tapi berprestasi. Ia berusaha mendapatkan bantuan tersebut, dengan bolak balik dari satu meja ke meja yang lain. Dari satu pejabat  ke pejabat yang lain. Namun gagal memperoleh bantuan yang dibutuhkan.

Ada banyak contoh lain tentang birokrasi yang kadang dijadikan sandaran berpikir dan bertindak orang-orang di dalamnya yang biasa disebut pejabat. Dengan pola pikir birokrasi itu pula misalnya banyak pejabat yang merasa bahwa semua urusan harus di bawah izin dan kendalinya.

Baca Juga  Terasi Bangka Selatan, Dari Tradisi ke Keberlanjutan

Padahal sang pejabat pasti banyak masalah yang dihadapinya. Waktu terbatas, kendala dukungan sumber daya, dan juga tidak semua soal harus ditanganinya. Terakhir tentu ketidakpahamannya. Namun karena berada kursi jabatan terkadang ia merasa paling tinggi duduknya, paling tahu segalanya, paling mengerti dan paling pintar, dan paling paling lainnya.

Akibatnya yang paling dirasakan bawahan dan masyarakatnya: pejabat ini terkadang kelihatan semakin bebal, atau meminjam istilah Rocky Gerung, menjadi makin dungu.

Birokrasi memang salah satu masterpiece yang ditemukan oleh ilmuwan terkenal Max Weber (1864- 1920). Sebagai solusi bentuk organisasi yang ideal pada masanya.

Mengusung antara lain prinsip efisiensi, spesialisasi dan hirarkis, kemudian membuat birokrasi jadi bentuk organisasi yang digunakan banyak pemerintahan di dunia. Sampai kemudian disadari bahwa organisasi birokrasi yang dipuja puji selama ini ternyata juga punya banyak kekurangan. Kelemahan dan penyakit birokrasi itu belakangan disebut patologi birokrasi.

Baca Juga  Teman Sejati

Banyak ahli yang kemudian coba mencari solusi. Tawarannya misalnya dengan memberikan nuansa wirausaha di birokrasi seperti yang telah dijalankan oleh Bill Clinton di Amerika Serikat atau Margaret Thacher di Inggris. Di dalam negeri misalnya ada Fadel Muhammad Gubernur Gorontalo yang berkibar dengan brandingnya tentang Provinsi Jagung.