Akan ke Mana Sungailiat?
Oleh: Yan Megawandi – Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung
Ada satu pertanyaan yang kerap mampir di benak saya setiap kali berbicara tentang Sungailiat: akan dibawa ke mana kota ini? Dalam bahasa yang lebih sederhana sepuluh hingga 20 tahun ke depan, Sungailiat ingin dijadikan apa?
Pertanyaan ini wajar. Bahkan penting. Sebab kota, seperti manusia, butuh arah untuk tumbuh.
Dulu, di masa R. Hariono, Sungailiat diimpikan menjadi kota yang Bersih, Tertib, dan Aman (BERTEMAN). Sebuah visi yang sederhana, tapi mendasar. Di masa Bustan Halik, semangat itu diteruskan dengan kedisiplinan yang nyata, hingga untuk pertama kalinya Adipura berhasil diraih.
Kemudian datang Eko Maulana Ali dengan cakrawala yang lebih luas. Sungailiat dibayangkan sebagai kota pendidikan dan pariwisata. Perguruan tinggi mulai dirintis, menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Bangka Belitung, meski kemudian berkembang di Kawasan Desa Balunijuk. Pariwisata pun didorong, meski harus berhadapan dengan realitas pahit: krisis ekonomi dan dinamika reformasi yang seperti pisau bermata dua.
Di satu sisi, masyarakat mulai merasakan manfaat langsung dari sumber daya alam. Tapi di sisi lain, praktik rente ikut tumbuh tanpa kendali. Kita tahu bagaimana akhirnya: kerugian negara yang fantastis, yang entah bagaimana pula cara menghitungnya.
Sungailiat sendiri pernah dilirik sebagai alternatif ibu kota provinsi. Ada gagasan menarik saat itu: memisahkan pusat pemerintahan dari pusat bisnis. Sebuah konsep yang sebenarnya lazim di banyak negara. Amerika Serikat dengan Washington DC dan New York. Malaysia dengan Putrajaya dan Kuala Lumpur. Australia dengan Canberra dan Sydney. Bahkan Afrika Selatan lebih unik lagi, membagi fungsi ibu kota ke dalam beberapa kota berbeda.
Gagasan itu mungkin tidak pernah benar-benar menjadi arus utama. Tapi setidaknya ia menunjukkan bahwa Sungailiat pernah dipandang punya posisi strategis.
Selebihnya, sejarah Sungailiat adalah cerita tentang kerja keras para pemimpinnya. Rasidi yang memulai dari keterbatasan. Arub yang menata wajah kota. R. Hariono dengan infrastruktur komunikasinya. Bustan Halik dengan ketertiban. Eko Maulana Ali dengan ekspansi wilayah dan visi pembangunan. Yusroni Yazid dengan layanan kesehatan. Tarmizi Saat dengan inovasi daerah. Mulkan dengan penguatan ekonomi rakyat. Hingga para penjabat bupati yang menjaga kesinambungan.
Hari ini, harapan itu berada di pundak Fery Insani dan Syahbudin. Dengan pengalaman birokrasi dan pemahaman sosial-ekonomi yang mereka miliki, kita tentu berharap arah Sungailiat ke depan semakin jelas. Tapi harapan saja tidak cukup. Perlu pengawasan, partisipasi, dan keterlibatan publik agar setiap kebijakan benar-benar membawa manfaat.
Lalu pertanyaannya kembali: Sungailiat akan jadi apa?
Mungkin kita tidak perlu memaksakan jawaban yang terlalu ambisius. Tidak semua kota harus menjadi segalanya. Kita sudah belajar dari Jakarta. Ketika sebuah kota dipaksa menjadi pusat pemerintahan, bisnis, budaya, hiburan, dan segala pusat lainnya sekaligus, beban itu bisa membuatnya “sakit”.
Sungailiat tidak harus seperti itu.
Biarlah ia tumbuh sesuai kapasitasnya. Menjadi kota yang nyaman ditinggali, berkarakter, dan punya arah yang jelas. Tanpa harus kehilangan jati diri hanya karena ingin terlihat besar.
Karena pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota yang paling sibuk.
