Oleh: Agustian Deny Ardiansyah

OPINI, TIMELINES.ID — Ibadah kurban selain dilakukan oleh masyarakat, organisasi dan instansi pemerintah ternyata juga dilakukan di lingkungan sekolah.

Ya, bahkan beberapa sekolah di Kabupaten Bangka Selatan juga melakukan penyembelihan hewan kurban yang dagingnya di bagian kepada  siswa dan dewan guru.

Hal itu mengingatkan saya ketika masih SD dulu, di mana saat Iduladha guru meminta para siswa untuk membawa kayu bakar dan juga rantang makanan.

Sesampainya di sekolah kayu bakar itu dikumpulkan yang ternyata digunakan untuk mengolah daging kurban yang disembelih.

Maklum, dulu di era 90’an tabung gas 3 kilogram belum masif seperti sekarang.

Sedangkan rantang makanan digunakan untuk mengisi makan dari daging kurban yang telah diolah oleh bapak dan ibu guru untuk dibawa pulang dan dicicipi oleh keluarga di rumah.

Baca Juga  Putri Tak Menyangka, Hobi Menulisnya Berbuah Manis

Kala itu hampir ratusan siswa yang mengisi bangku kelas 1 sampai kelas 6, sehingga biasanya daging kurban yang telah diolah habis dibagikan kepada siswa-siswi dan dewan guru.

Seingat saya hewan kurban yang disembelih tidak pernah sapi, selalu kambing dan jumlahnya tidak lebih dari tiga ekor kambing mentok dua ekor kambing.

Tapi itulah kesyukuran yang dilakukan di sekolah kami oleh bapak dan ibu guru, kadang ada juga pengurban dari orangtua siswa.

Begitu juga hari ini, ketika sekolah-sekolah juga melakukan penyembelihan hewan kurban di lingkungan sekolah.

Lalu apa maksud dari hal itu, teladan apa yang ingin diberikan kepada siswa oleh guru dengan penyembelihan hewan kurban tersebut?.

Baca Juga  Desa Tebing: Wajah Baru Menggali Potensi Agrowisata Sawah

Setelah saya menjadi guru seperti sekarang, hal itu mulai terpikirkan.

Kenapa?  Ya karena setiap kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah (instansi pendidikan) harus memiliki nilai untuk diwariskan kepada siswa-siswinya.

Seperti saat dulu saya SD, ketika kurban di sekolah, saya diminta guru membawa kayu bakar dan rantang.

Namun soal nilai yang ada di dalamnya selain nilai terkait anjuran agama Islam saya tidak tau.

Baru hari ini ketika bayak orang menulis tentang kurban dengan tema ibadah sosial, kesalehan sosial atau tema lainnya, membuka pikiran saya tentang nilai yang ingin disampaikan kepada siswa dari ibadah kurban yang dilakukan.

Terlebih di era gencarnya penumbuhan profil pelajar Pancasila di sekolah-sekolah di Indonesia.

Baca Juga  Benarkah Narasi untuk Kepentingan Rakyat yang Disenandungkan Pemimpin, Memang untuk Kepentingan Rakyat?