Melainkan kota yang paling manusiawi. Selamat Ulang Tahun Kotaku, Sungailiat.

Akan ke Mana Sungailiat

Sungailiat,
kau ini kota atau pertanyaan
yang belum sempat dijawab?

Di pagi hari, orang-orang berangkat kerja
dengan wajah setengah yakin,
setengah lagi pasrah pada arah
yang tak pernah benar-benar disepakati

Di trotoar yang kadang ada, kadang tidak,
aku berjalan sambil bertanya:
apakah kota juga bisa bingung
menentukan masa depannya sendiri?

Dulu kau diajari menjadi tertib,
bersih, dan sedikit lebih aman dari kecemasan.
Lalu kau didorong bermimpi
menjadi kota pendidikan,
kota wisata, kota yang ingin dikenang

Tapi mimpi-mimpi itu
kadang seperti baliho lama:
masih berdiri, tapi pesannya mulai pudar

Baca Juga  Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw: Merangkul dengan Kasih Sayang untuk Membangun Peradaban Mulia

Di warung kopi,
orang-orang lebih sibuk membicarakan timah
daripada masa depan
Barangkali karena masa depan
tidak bisa langsung ditimbang per kilogram

Sungailiat,
kau pernah hampir jadi ibu kota provinsi,
tapi mungkin kau terlalu sopan
untuk berebut peran

Atau mungkin kau tahu,
menjadi “ibu” itu berat
harus mengurus semua,
tanpa sempat mengurus diri sendiri

Lihatlah kota-kota besar itu,
yang dipaksa jadi segala-galanya,
lalu kelelahan diam-diam
di balik lampu-lampu gemerlapnya

Sementara kau,
masih duduk di beranda waktu,
menyeduh hari demi hari
tanpa banyak tuntutan

Mungkin memang tidak perlu
terlalu terburu-buru menjadi hebat
Mungkin cukup
menjadi kota yang tahu
kapan harus tumbuh,
dan kapan harus berhenti
agar tidak kehilangan arah

Baca Juga  Pemanfaatan Minyak Jelantah untuk Produksi Sabun sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Rumah Tangga di Desa Kapit

Sungailiat,
kalau suatu hari kau ditanya
ingin jadi apa,
jawablah pelan-pelan saja:

“Aku ingin jadi tempat
orang-orang pulang tanpa merasa asing.”