Ada lagi bentuk lain perbaikan birokrasi seperti yang dilakukan di negara-negara Skandinavia. Memasukan filosofi pelayanan dalam setiap gerak birokrasi, karena bukankah negara ada untuk melayani publiknya? Tetapi ada pula negara yang tetap ngotot menjalankan model birokrasi murni karena dipandang lebih mudah dikendalikan walaupun terkadang berbiaya tinggi seperti kita jalani di masa orde baru atau yang ekstrem adalah apa yang dilakukan Korea Utara. Soal masyarakat puas atau sebaliknya itu belakangan dibahas.

Kembali ke model pejabat yang hanya bisa dan mampu melakukan pendekatan birokrasi tadi. Penyebabnya antara lain konon karena biasanya mainnya belum jauh dan pergaulannya baru di sekitar RT-nya saja.

Walaupun biasanya mengakunya sudah ahli macam-macam dan sangat berpengalaman. Suatu ketika saya diceritakan oleh teman-teman yang sudah tak tahan lagi dengan tingkah sang pejabat. Menurut teman saya itu di kantornya ada pejabat yang melakukan orasi dalam pengarahan apel pagi sampai lebih dari 45 menit.

Yang dibahas anda bisa menduganya. Mulai dari keluhan-keluhan di mana arahan yang dibuatnya selama ini tak digubris bawahannya, sampai kepada upaya membranding dirinya sendiri sebagai seorang pejabat yang paling bersih, paling takwa, paling berprestasi dan juga paling ahli.

Baca Juga  Babel Berkilau di Langit Riau

Pimpinan model ini biasanya kemampuannya baru pada tahapan siap memerintah dan mengkritik sana sini. Yang dikritik itu biasanya adalah para bawahannya. Karena kalau atasan yang dikritik maka konditenya yang akan bermasalah nantinya. Karenanya ia tak pernah mampu memberikan kritik kepada atasannya.

Kacaunya lagi, masih menurut info teman-teman saya tadi, bila ada yang coba memberikan masukan dan saran apalagi kritik kepadanya bisa-bisa darah tinggi sang pejabat kumat. Ia akan naik pitam. Penyebabnya itu tadi. Merasa sudah paling pintar dan paling kuasa. Yang terlihat olehnya dalam bekerja hanya dua hal, perintah atasannya dan perintahnya sendiri. Terhadap perintah atasan maka ia harus menjadi pelaksana yang terbaik.

Sedangkan untuk perintahnya sendiri semua harus nurut, ikut dan manut.  Jangan coba-coba membangkang. Karena itu artinya pelanggaran berat yang dapat berujung pada surat teguran. Celakanya surat semacam ini bisa membuat dompet jebol. Alias tunjangan kinerja dikorting. Alamat pembayaran angsuran kredit yang jumlahnya cukup besar akan terganggu.

Baca Juga  Mengapa Blue Ocean Strategy Menjadi Kunci Sukses di Sektor Ritel?

Ini mirip model pemimpin yang diistilahkan para anak muda zaman now sabagai toxic leader. Yang dia pikir hanya isi kepala dan perutnya belaka. Tidak peduli bawahannya puas atau tidak bekerja dengannya.  Terkadang ia pun menjalankan model transaksional leadership. Karena mesti jelas setiap tindakan itu akan menghasilkan keuntungan apa. Sekali lagi terutama untuk dirinya sendiri.

Menurut banyak ahli penyakit patologi birokrasi semacam ini tidak terjadi di negara-negara asal demokrasi dan birokrasi di barat. Di negara kita munculnya sakit ini karena masuknya budaya paternalisme dalam tubuh birokrasi. Orang yang jadi pejabat menjelma menjadi sebagai raja kecil.

Ia pusat kekuasaan di lingkupnya bekerja, antara lain karena pengangkatan para pejabat dibawahnya merupakan hasil dari kerjanya. Artinya hanya bawahan yang sesuai dengan kehendak dan keinginan atasanlah yang bisa berkarir bagus. Penyebab lainnya di antaranya karena kapasitas dan kemampuan yang memang belum memadai untuk melaksanakan tugas-tugas yang tidak ringan di birokrasi.

Baca Juga  Tambang, Timbang, Tumbang

Karena itu sekarang digalakan apa yang dinamakan reformasi birokrasi. Harapannya bila semua lini dilakukan reform atau perbaikan ulang maka birokrasi yang sakit tersebut bisa disembuhkan dan masyarakat mendapat pelayanan yang semakin mumpuni.

Salah satu dari gerakan reformasi birokrasi tersebut ialah dengan membuat nilai dasar bagi PNS yang disebut dengan istilah berahklak. Di dalamnya terdapat tujuh nilai dasar yang mesti dipedomani dan dijadikan semacam landasan bagi pegawai negeri dalam bekerja.

Namun yang tak kalah pentingnya adalah melahirkan sosok pejabat dan birokrat yang tak hanya cerdas dan pintar tetapi mampu menjadi teladan dan inspirasi bagi pejabat lain di lingkungannya. Sosok seperti ini yang sekarang konon semakin sulit menemukannya. Semoga saya yang keliru. Salam takim.

Yan Megawandi