Menajamkan Pisau Keinsafan: Menyembelih “Hewan” Keserakahan di dalam Dada
Menajamkan Pisau Keinsafan: Menyembelih “Hewan” Keserakahan di dalam Dada
Oleh: Sobirin Malian — Dosen, Penggiat Literasi
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…
Gema takbir yang membelah langit subuh Idul Adha selalu membawa getaran yang sama setiap tahunnya. Kita berdiri di tepi lapangan atau halaman masjid, menyaksikan sekelompok orang merebahkan seekor lembu yang tambun atau domba yang gemuk ke atas tanah. Pisau yang diasah tajam berkilat di bawah sinar matahari pagi, menyentuh urat leher sang hewan, lalu dalam satu gerakan mantap, darah pun mengalir membasahi bumi. Namun, jika kita mau menepikan keriuhan sesaat dan menatap darah yang meresap ke dalam tanah itu, sebuah pertanyaan sunyi akan mengetuk dinding kesadaran kita: Siapa sebenarnya yang sedang kita sembelih hari ini?
Fatamorgana Monster yang Tak Pernah Kenyang
Hewan ternak yang pasrah di bawah sebilah baja itu hanyalah sebuah simbol visual. “Hewan” yang sesungguhnya—yang jauh lebih liar, lebih rakus, dan tak pernah kenyang—justru sedang berdiri tegak di dalam dada kita sendiri. Ia adalah nafsu keserakahan. Sifat kebinatangan inilah yang setiap hari berbisik agar kita terus menimbun harta, memonopoli kebahagiaan, dan mencengkeram dunia seolah-olah kita akan hidup selamanya.
Selama ini kita keliru berpikir bahwa dengan memberi makan monster keserakahan ini dengan takhta dan materi, ia akan menjinak. Padahal, ia seperti api; semakin diberi kayu bakar, semakin ia berkobar hebat hingga menghanguskan rumah tempat ia tinggal, yaitu kedamaian hati kita sendiri. Di sinilah esensi qurban universal mengetuk kemanusiaan kita: kita diminta merebahkan ego yang gemuk itu, lalu menyembelihnya tanpa belas kasihan bersamaan dengan runtuhnya sang hewan sembelihan.
