Malam Pertama Tanpa Mereka
*****
Suara tangisan berjamaah santri baru menggema di sebuah masjid pesantren. Suara itu datang dari seluruh santri baru. Entah berapa roll tisu sudah dihabiskan oleh jamaah santri baru itu. Mukena yang mereka pakai juga tidak terhindar dibuat alat untuk menyeka air mata. Suara tangisan itu mengalahkan suara jangkrik di sekitar tempat ibadah itu.
Tangisan mereka seperti sebuah koor yang mempunyai harmoni. Mungkin karena mereka senasib sehingga suara tangisan itu terasa sama. Yang sebelumnya mempunyai sifat sedikit nakal, malam itu menangis, yang sering melawan orang tuanya juga tidak bisa membendung air matanya.
Di tengah suasana kesedihan yang sangat mendalam itu, Ance teringat kembali waktu sore tadi keluarganya berpamitan dan melambaikan tangan. Perpisahan sore tadi membuat luka di hati Ance. Tatapannya tidak berpaling dari keluarganya yang terus melambaikan tangan.
Saat itu waktu seakan begitu cepat berlalu. Jarum jam seakan berlari seperti pelari kelas dunia yang sedang bertanding. Ance terus menatap pilu keluarganya sampai ke gerbang megah yang bertuliskan nama sebuah pesantren. Bahkan sampai mobil yang ditumpangi keluarganya tidak terlihat lagi dan hanya menyisakan suara dan asap, Ance tetap bergeming di posisinya.
Sampai semua sunyi, barulah Ance menuju tempat barunya. Sebuah ruangan tanpa sekat yang dipenuhi lemari kecil. Ruangan itu berukuran sedang. Jika diperkirakan ruangan itu mampu menampung sekitar 20 orang. Ruangan itu terasa penuh karena beberapa ranjang sudah tersusun dengan presisi.
Ranjang-ranjang didesain sedemikian rupa. Dibuat dua tingkat sehingga bisa menampung banyak orang. Ance mendapatkan ranjang di bagian bawah. Ia tidak kesulitan mencari tempatnya untuk beristirahat, karena di setiap ranjang sudah tertulis nama setiap penghuni.
*****
“coba lihat! Itu Ance”
Ayah Ance memanggil anggota keluarganya untuk melihat sebuah gambar yang ada di handphone-nya. Gambar itu dikirim dari pesantren tempat Ance belajar. Gambar itu dikirim ke grup WA wali santri.
“lagi apa dia?”
Ibu Ance mendekat dengan penuh penasaran.
“sepertinya sedang makan bersama.”
Ayah Ance menjawab sambil terus memperhatikan gambar itu dengan saksama.
“benar! Ia sedang makan, itu lagi pegang piring.”
Ayah Ance melanjutkan.
Melihat visual yang ada di grup WA itu sontak saja keluarga Ance tanpa sadar meneteskan air mata. Mereka sedih melihat Ance yang biasanya makan bersama, sekarang harus makan sendiri. Biasanya Ance selalu diambilkan nasi dan lauknya, sekarang harus berjuang sendiri demi mendapatkan nasi dan lauknya.
Gambar itu seolah-olah mengalihkan kesedihan yang dialami Ance ke rumah keluarganya. Tapi kesedihan keluarganya itu seakan membantah anggapan Ance bahwa keluarganya tega dan tidak sayang kepadanya karena mengirimnya ke pesantren. Ternyata di belakang Ance mereka juga bersedih dan merasa kehilangan.
“sudah, jangan menangis! Ini semua demi kebaikan Ance.”
Ayah Ance berusaha memberikan semangat kepada keluarganya. Setelah itu tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Hanya sesekali suara sesenggukan dari saudara Ance yang terdengar. Namun dalam hati masing-masing terus melangitkan doa, semoga Ance mampu bertahan dan menjadi anak yang soleh dan cerdas.
*****
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
