Malam Pertama Tanpa Mereka
Oleh: Syabaharza
Pagi itu rumah Ance dipenuhi oleh keluarga besarnya. Suasana rumah sudah seperti hari lebaran saja. Mulai dari bibi, paman, kakek, nenek, saudara kandungnya dan tentu saja kedua orang tuanya sudah duduk membuat lingkaran di ruang tamu. Di tengah kerumunan dihiasi dengan beraneka jajanan toko.
Jenis kue basah dan kue kering minuman siap saji juga sudah ikut berkumpul. Makanan khas keluarganya juga tidak ketinggalan, kerupuk dan pempek ikan selalu hadir jika ada acara keluarga. Jika kedua panganan yang disebutkan terakhir itu tidak ada maka acara keluarga dirasa kurang berkesan.
Jarum jam dinding menunjukkan pukul 09.12 menit. Jam dinding klasik dengan dua warna itu selalu menjadi patokan keluarga Ance untuk mengetahui waktu. Walau sudah mulai usang, tetapi perannya sampai sekarang tidak tergantikan. Jam dinding itu tetap menjadi pilihan utama keluarga Ance.
Mungkin karena ia sudah berjasa atau mungkin juga karena banyak kenangan terhadap jam dinding itu atau mungkin juga karena belum ada budget untuk menggantikannya, sehingga jam dinding itu tidak tergoyahkan posisinya. Di saat rumah teman Ance sudah mengganti jam dinding dengan keluaran terbaru, keluarga Ance tetap tidak tergoda.
Di sudut ruang tamu terlihat beberapa koper warna hitam dengan muatan yang sarat, sudah tersusun dengan rapi. Koper itu berjumlah dua buah, ada yang besar dan ada yang sedang. Merk koper itu masih baru sehingga sangat jelas tulisannya dari kejauhan. Di samping koper terlihat kantong plastik merah besar. Kantong itu juga terlihat sarat dengan berbagai keperluan sehari-hari. Tapi makanan ringan dan mi instan mendominasi isi kantong itu.
Koper dan kantong itu merupakan peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa Ance ke tempat barunya, karena dalam hitungan jam Ance akan berpisah dengan orang tuanya. Berpisah dengan keluarganya. Berpisah dengan orang-orang yang disayanginya. Berpisah dengan semua mainan kesayangannya. Berpisah dengan handphone yang selalu menemaninya ketika pulang sekolah. Beberapa jam lagi ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
*****
“sudah siap semua ya?”
Ayah Ance mengecek barang bawaan yang akan dimasukkan ke mobil.
Ibu Ance dan saudara yang lain tampak sibuk mengangkat koper dan kantong plastik.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Mereka hanya memiliki waktu satu jam untuk sampai ke tujuan. Pukul 17.00 adalah waktu maksimal yang disediakan bagi Ance untuk hadir di tempat barunya. Lewat dari waktu itu maka akan ada sanksi yang diterima.
Ayah Ance sudah mengeluarkan mobil dari garasi. Mobil tua yang selalu mengantarkan keluarga Ance kemana pun mereka pergi. Mobil itu bernasib sama dengan jam dinding di rumah Ance. Tua, kusam dan antik. Namun, nasib mobil itu sedikit naas dibandingkan jam dinding, karena sering sakit-sakitan. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali mobil keluarga itu masuk bengkel karena harus diservis. Bahkan sering juga mobil itu diganti onderdilnya.
“ayo cepat sedikit”
Ayah Ance memanggil anggota keluarganya sambil melihat jam tangannya. Sebuah jam tangan dengan tali warna hitam dan kepala jam berwarna kuning.
Seluruh anggota keluarga Ance bergegas menuju mobil dengan langkah pasti. Sementara berbeda ekpresi Ance. Tampaknya ia masih belum siap untuk pergi ke tempat barunya. Tampaknya ia belum siap meninggalkan semua kesenangannya. Tampaknya ia belum siap berpisah dengan orang yang disayanginya. Dan tampaknya ia berat meninggalkan handphone pintarnya.
Namun ia berusaha untuk menutupi semua kemasygulannya. Ia berusaha tegar untuk menghadapi semua kenyataan ini. Ia berusaha tetap senang di hadapan orang tua dan keluarganya.
*****
Suara mobil meraung memecah keheningan sore itu. Mobil kijang itu melaju dengan kecepatan maksimal menyusuri jalan-jalan desa yang sudah diaspal. Sesekali bunyi klakson terdengar karena ada binatang yang mencoba bunuh diri dengan menabrakkan ke mobil. Di depan setir, ayah Ance khusuk memperhatikan jalan. Beliau harus konsentrasi karena di tangannya nasib seluruh penumpang. Jika ia lalai tentu bahaya akan mengintai.
Sepanjang perjalanan, Ance tidak menampakkan senyum sedikitpun. Kontras jika melihat keluarganya yang selalu membuka mulut mereka, tertawa lebar. Tampaknya Ance membayangkan situasi pasca ia datang ke tempat yang baru nanti. Kesepian tentu akan mendera. Kesunyian pasti akan datang. Dalam pikiran Ance, keluarganya tidak sayang lagi kepadanya karena tega melepaskannya ke tempat yang baru sendirian.
Dalam suasana yang kacau bagi Ance itu, ia teringat kembali ketika beberapa bulan yang lalu ia menyetujui kehendak keluarganya untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren. Waktu itu ia tidak punya pilihan lain, sehingga ia bersedia ketika diantar untuk mengikuti seleksi masuk sebagai santri baru.
Karena ia termasuk anak yang cerdas, maka seluruh materi tes dilahapnya dengan mudah bahkan ketika pengumuman kelulusan namanya nangkring paling atas. Setelah hasil kelulusan itu sebenarnya ia mulai galau. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang harus dilakukan adalah mencari bumbu tambahan agar buburnya menjadi enak untuk dimakan.
Puncak kegalauannya terjadi hari ini. Ketika keluarganya mengantar ke pesantren. Sepanjang perjalanan ia berdoa agar selalu diberi kekuatan dalam menjalani pendidikan dengan gelar santri. Kegalauannya semakin diperparah dengan adanya info bahwa santri pesantren akan mengurusi semua aktivitas secara mandiri. Info itu didapatnya dari hasil scrolling di media sosial.
