Oleh: Muhammad Habibi – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Sebagai orang yang lahir dan besar di Bangka Belitung, kita semua paham bahwa laut bukan sekadar pemandangan indah. Laut adalah sumber hidup bagi ribuan nelayan. Dari sanalah mereka mencari makan, menyekolahkan anak, dan bertahan hidup. Tapi kalau kita melihat kondisi pesisir sekarang, rasanya miris, ini bukan sekadar cerita, tapi peringatan tentang apa yang sedang terjadi di laut Bangka Belitung.

Dulu, laut di sekitar kampung nelayan jernih dan biru. Nelayan cukup melaut dekat pantai untuk mendapatkan ikan atau kepiting yang berukuran besar. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Air laut berubah menjadi keruh kecokelatan. Penyebabnya sudah banyak orang tahu, yaitu aktivitas tambang timah di laut yang semakin mendekati wilayah tangkap nelayan.

Baca Juga  Dilema Kewenangan: Ketika Lembaga Negara Saling Tumpang tindih

Masalah tambang laut bukan hanya soal pengambilan timah, tapi dampak yang ditinggalkannya. Lumpur sisa tambang menyebar dan menutupi dasar laut. Terumbu karang yang butuh waktu lama untuk tumbuh bisa rusak dalam waktu singkat karena tertimbun lumpur. Kalau tempat hidup ikan rusak, ikan akan pergi. Kalau ikan tidak ada, nelayan kehilangan sumber penghidupan.

Di beberapa daerah pesisir Bangka Belitung, nelayan sekarang terpaksa melaut lebih jauh. Ini membuat biaya solar meningkat dan risiko di laut semakin besar. Tidak jarang hasil tangkapan yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi sudah menyangkut kehidupan dan kebutuhan sehari-hari nelayan.

Baca Juga  Izin Lingkungan yang Sekadar Formalitas: Ketika Legalitas Mengalahkan Etika Ekologis

Tambang laut juga menimbulkan masalah sosial. Di masyarakat sering terjadi perbedaan pendapat, bahkan konflik, antara yang mendukung dan yang menolak tambang. Ada yang tergiur dengan uang cepat, ada juga yang ingin laut tetap terjaga untuk masa depan. Akibatnya, hubungan antarwarga yang dulu rukun menjadi renggang.

Pemerintah sering menyebut reklamasi sebagai solusi. Namun kenyataannya, memperbaiki dasar laut yang sudah rusak tidaklah mudah. Laut berbeda dengan daratan. Ketika air terus keruh, plankton sulit hidup, dan ini akan berdampak pada seluruh rantai makanan di laut. Kerusakan yang terjadi tidak bisa cepat dipulihkan.

Masyarakat Bangka Belitung sebenarnya tidak menolak pembangunan. Keadilan dan keberlanjutan adalah hal yang diinginkan. Daerah ini punya potensi wisata laut yang sangat besar. Wisatawan datang untuk menikmati laut yang bersih dan indah, bukan melihat tambang dan air keruh. selain itu, prospek pariwisata Bangka Belitung akan menjadi tantangan jika pesisirnya rusak.

Baca Juga  Sembahyang Rebut (Ching Ngiat Pan)