Dari Sawah, Hukum, hingga Gizi: Cerita Pemberdayaan Desa Tebing
Aspek kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan PMM. Rendahnya pemahaman mengenai pola hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang masih menjadi tantangan di tingkat keluarga. Melalui pelatihan pola hidup sehat dan pemberian gizi tepat, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk menjaga kesehatan keluarga, mulai dari penyusunan menu bergizi berbasis bahan lokal hingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Upaya ini menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia desa.
Selain pertanian dan kesehatan, Desa Tebing juga memiliki potensi pariwisata yang menjanjikan melalui Agrowisata Indah Sawah Tebing. Namun, potensi tersebut tidak dapat berkembang tanpa perencanaan yang matang dan partisipasi masyarakat. Kegiatan Social and Tourism Mapping menjadi langkah awal untuk memahami kondisi geografis, daya dukung lingkungan, serta kesiapan sosial masyarakat. Pemetaan ini menegaskan bahwa pengembangan pariwisata harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan tidak mengganggu fungsi utama lahan pertanian.
Hasil pemetaan kemudian ditindaklanjuti melalui Workshop Manajemen Pengelolaan Agrowisata yang melibatkan Karang Taruna sebagai penggerak utama. Melalui kegiatan ini, masyarakat mulai membangun cara pandang baru terhadap pariwisata desa. Agrowisata tidak hanya dipahami sebagai ruang rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian nilai-nilai lokal. Ide-ide paket wisata berbasis aktivitas persawahan dan kehidupan pedesaan mulai dirumuskan sebagai langkah awal pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Pengalaman PMM di Desa Tebing menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak dapat dicapai secara instan. Prosesnya menuntut keterlibatan aktif masyarakat, kolaborasi lintas pihak, serta kesediaan untuk belajar bersama. Dalam konteks ini, mahasiswa bukan hadir sebagai pihak yang paling tahu, melainkan sebagai fasilitator yang mendampingi proses perubahan.
Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat perlu terus diperkuat. Program pengabdian seperti PMM dan KKN seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang pembelajaran sosial yang menghasilkan dampak nyata. Desa Tebing memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan desa yang berdaya, sehat, dan berkelanjutan dapat dimulai dari pendekatan sederhana: mendengar, memahami, dan bekerja bersama. (**)
