Buku yang Tak Terbeli dan Luka Tak Terbaca
Yang ia pahami hanya rasa bersalah dan keinginan untuk tidak merepotkan. Yang ia rasakan hanya: “Aku tidak punya buku. Aku berbeda. Aku menyusahkan orang tuaku.” Dalam kondisi seperti ini, pikiran ekstrem bukan lahir dari logika matang, melainkan dari kepolosan yang dibiarkan tanpa perlindungan sosial.
Pertanyaan pentingnya, di mana lingkungan sekitar? Di mana guru, tetangga, RT, perangkat desa, dan orang-orang dewasa yang seharusnya peka melihat tanda-tanda kelelahan batin seorang anak?
Birokrasi yang Rapi, Tapi Kehilangan Rasa
Tragedi ini juga menunjukkan wajah birokrasi yang sering terlalu kaku. Aturan dijalankan dengan tertib, laporan disusun rapi, tetapi kepekaan tertinggal di meja kantor. Ketika realitas di lapangan tidak persis sesuai data, bantuan tidak bergerak. Dalam konteks anak yang tidak bisa membeli buku, prosedur menjadi kaku ketika misalnya:
- Bantuan pendidikan hanya bisa cair jika semua dokumen lengkap, sementara keluarga miskin sering tidak tahu cara mengurusnya.
- Sekolah menunggu data resmi (DTKS, SKTM, atau sejenisnya), padahal kondisi anak sudah terlihat jelas setiap hari di kelas.
- Guru atau pihak sekolah berpikir, “kalau belum terdaftar, kami tidak bisa apa-apa”.
Secara aturan, itu tidak salah. Tapi secara kemanusiaan, itu bermasalah. Padahal, dalam kondisi tertentu, aparatur perlu keberanian untuk bertindak lebih manusiawi (bukan melanggar aturan), tetapi menggunakan akal sehat agar tidak ada warga, terutama anak yang jatuh terlalu jauh. Pendidikan tidak bisa dipahami semata sebagai urusan administrasi, melainkan sebagai ekosistem sosial yang menuntut perhatian lintas sektor: pendidikan, sosial, kesehatan, dan pemerintahan desa.
Kritik Tanpa Menyalahkan
Tulisan ini tidak ditujukan untuk mencari kambing hitam. Tidak ada serangan personal di sini. Yang perlu dikritisi adalah cara berpikir kebijakan: apakah cukup menjangkau mereka yang tercecer? Apakah sistem cukup peka membaca kondisi di luar kertas?.
Pendidikan bukan hanya urusan kurikulum dan anggaran, tapi juga soal:
- Keberanian guru untuk peduli,
- Kepekaan sekolah,
- Kehadiran RT, perangkat desa, dan lingkungan sekitar.
Kalau semua orang menunggu prosedur sempurna, maka anak yang paling lemah akan selalu datang terlambat untuk ditolong. Solusinya tidak muluk. Yang dibutuhkan adalah langkah-langkah masuk akal : selalu rutin melakukan pembaruan data penerima bantuan, ruang keputusan yang lebih manusiawi bagi aparat di lapangan, serta penguatan peran sekolah dan lingkungan sebagai sistem peringatan dini. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga kesejahteraan murid. Masyarakat perlu kembali dibiasakan untuk saling peduli, bukan sekadar “bukan urusan saya”.
Refleksi Penutup
Seorang anak meninggal bukan karena ia lemah, tetapi karena terlalu banyak orang dewasa dan sistem yang datang terlambat. Tragedi ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua, bahwa kebijakan tanpa kepekaan hanya akan melahirkan angka, bukan perlindungan.
Jika kita sungguh percaya pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, maka tidak boleh ada satu pun anak yang merasa hidupnya lebih mahal daripada sebuah buku dan pena. Dan jika kita gagal belajar dari peristiwa ini, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi kemampuan anak untuk bertahan, melainkan kemampuan kita sebagai masyarakat dan negara untuk peduli. Terkadang, bantuan kecil sebuah pena dan sapaan hangat bisa menyelamatkan satu masa depan agar tidak berakhir “di ujung tali”.
