Oleh: Rahmatiah, SKM., M.Kes — Guru Paud Terpadu Aisyiyah Mentok

Bulan ini kita telah memasuki bulan Syakban dan menyiakan diri untuk menyonsong hadirnya bulan paling mulia, bulan penuh berkah, bulan Ramadan yang di dalamnya Allah menetakan kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan.  Di bulan Syakban kita menyaksikan berbagai macam tradisi yang berkembang di masyarakat, seperti tradisi Nisfu syakban dan Ruwahan.

Tradisi Nisfu Syakban pada mulanya diperingati oleh segolongan ulama tabi’in di daerah Syam, yang kini dikenal dengan negara syuriah. Tradisi itu belum ada pada masa Rasullullah saw, sahabat, bahkan masa tabi’in di luar daerah syam. Menyikapi traadisi ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Pertama, Disunahkan menghidupkan malam Nisafu Syakban secara Jemaah di masjid. Kholid Bin Ma’ dan Lukman Bin Amir menggunakan pakaian terbaik mereka, membakar dupa (Bukhur), dan melakukan iktikaf di dalam masjid.

Kedua, dimakruhkan, berkumpul didalam masjid – masjid untuk menghidupkan malam Nisfu Syakban dengan salat, berdoa, dan menyampaikan kisah – kisah teladan, namun tidak dimakruhkan salat sendiri. Ini adalah pendapat Imam Al Auza’i, seorang Imam, ahli fiqih dan alimnya negeri syam.

Baca Juga  Kemajuan Teknologi Informatika: Sebuah Pedang Bermata Dua

Ketiga, Bahwa perayaan malam nisfu syakban adalah Bid’ah. Ini pendapat mayoritas Ulama Hijaz, seperti Adha’ dan Ibnu Abi Malikah. Fukaha Madinah, seperti Abdurahman Bin Zaid Bin Aslam dan Ashab Maliki juga mem Bid’ah kan perayaan Nisfu Syakban.

Peringatan Nisfu Syakban juga beredar luas dikalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Mereka melakukan bersih makam dan masjid, dan malam harinya berkumpul dimasjid, membaca Al – Qur’an, berzikir, silaturahim, mendoakan keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia, bverdoa memohon nikmat Allah, dan diakhiri dengan makan bersama dengan menu makanan ketupat dan sayur yang dibawa oleh warga masyarakat.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan mengharapkan mendapat keberkahan di bulan syakban untuk kemudian diberi nikmat menjalani ibadah di Bulan Ramadan.  Tradisi Nisfu syakban, juga dilakukan dengan membaca zikir, solawat, doa khusus nisfu syakban, puasa, dan sholat sunah nisfu syakban.

Tradisi lainnya yang masih dilakukan masyarakat adalah Ruwahan dalam kalender Jawa, bulan kedelapan disebut bulan Ruwah. Dalam kalender Hijriah, disebut bulan Syakban, yang dalam tradisi masyarakat jawa, khususnya dikenal tradisi nisfu Syakban, yang telah diuraikan diatas.  Ruwahan adalah tradisi masyarakat jawa yang dilakukan pada bulan Ruwah.

Baca Juga  Mengedepankan Etika Politik untuk Indonesia Damai

Ruwah berasal dari bahsa Arab, Arwah bentuk Jamak dari RUH. Bulan Ruwah merupakan bulan yang didalamnya terdapat tradisi menghormati Arwah yaitu Ruh Ayah – Ibu dan Keluarga lainnya yangn sudah meninggal dunia. Mereka melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, dan berdoa.

Apabila berdoa berisi doa memohonkan ampunan pada Arwah saudara yang sudah di alam barzah, merupakan salah satu tuntunan islam untuk mendoakannya.  Tetapi doa khusus dibulan Ruwah tidak ada tuntunannya. Apalagi justru minta doa kepada orang tua yang sudah wafat. Jelas bertentangan dengan tuntunan syariat.

Ruwahan dilengkapi dengan menghidangkan makanan tradisional berupa Apem, ketan, dan kolak. Dalam tradisi kraton ngayogyakarta Hadinigrat, memasak apem yang telah disiapkan adoanannya oleh para abdi dalem, dilakukan oleh putri – putri sultan. Ada apem gedhe (bentuknya besar), untuk para keluarga kraton dan apem cilik (ukurannya kecil) untuk dibagikan kepada para abdi dalem.

Terdapat makna filosofis dari hidangan dimaksud. Ketan konon berasal dari lafal Khata’a yang artinya kesalahan atau perbuatan dosa, kolak berasal dari bahasa arab khala’a artinya yang telah lalu dan apem dari lafal ‘Afuwwun artinya ampunan. Jadi hidangan ketan, kolak, dan apem bermakna kesalahan yang telah dilakukan mohon dimaafkan.

Baca Juga  Tanggung Jawab Kurator terhadap Kerugian Kreditur dalam Proses Kepailitan

Dalam masyarakat Yogyakarta masih terdapat tradisi Ruwahan yang dilengkapi dengan Ngapem (membuat hidangan ketan, kolak, apem), mereka merasa itu satu kewajiban anak terhadap orang tua yang telah wafat.

Dalam kondisi sulit ekonomi, mereka terkadang masih memaksakan diri membuat apem untuk melestarikan tradisi ruwahan, meski harus pinjam. Kondisi seperti ini sejatinya tidak sejalan dengan tuntunan Islam dalam mengelola harta untuk kepentingan keluarga dan kemaslahatan.

Memahami tradisi – tradisi yang masih berkembang tersebut, muncul pertanyaan dari jema’ah Bagaimana tuntunan Muhammadiyah tentang hal tersebut?

Bila dilihat dari kerangka dasar ajaran islam, traadisi Nisfu Syakban dan Ruwahan termasuk dalam ranah Mu’amalah Dunyawiyyah yaitu termasuk perkara – perkara yang berhubungan dengan kehidupan didunia bias dilihat dari sisi Ibadah, maka hal tersebut termasuk ‘Ibadatul – ‘Ammah (Ibadah Umum) yaitu amalan yang diizinkan Allah.