Antara Syar’i dan Tradisi
Masalahnya, apakah tujuan dan caranya sejalan dengan Islam?
Tujuannya untuk mendekaktkan diri kepada Allah dan membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadan, nampaknya bagus. Tetapi Rasullullah saw tidak menuntunkan seperti itu. Adakah caranya yang tidak sejalan dengan Islam? Bila dalam Nisfu Syakban dilakukan dengan puasa syakban, solat sunah syakban, maka hal tersebut tidak ada tuntunannya. Doa khusus juga tidak dituntunkan nabi Muhammad saw.
Bisa dilihat sisi budaya, Muhammadiyah dalam tanfidz keputusan MUNAS TARJIH XXVII Tahun 2010 di Malang, tentang tuntunan seni budaya islam, diantaranya memutuskan bahwa hokum islam tentang seni dan budaya Mubah/Boleh. Sepanjang tidak ada larangan agama dalam cara maupun tujuannya. Larangan dimaksud adalah tidak mengarah dan mengakibatkan Fasad (kerusakan), Dhrar (Bahaya), ‘Isyan (kedurhakaan), dan Ba’id’ anill-lah (menjauhkan diri dari mengingat Allah).
Jika membaca tradisi Nisfu Syakban dan Ruwahan, maka sebenarnya Itu merupakan tradisi, meski tidak ada tuntunannya. Bila dalam tradisi pada awalnya boleh selama tidak ada larangan yang dilakukan, maka dalam ibadahtul – khashshsah, sebaliknya, pada dasarnya dilarang sehingga ada tuntunannya.
Rumusan dalam masa ilul khams, bahwa ibadah yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan allah akan perincian – perinciannya, tingkah dan cara – caranya yang tertentu. Sederhananya, tidak ada perintah untuk puasa, sholat sunnah, dan doa khusus nisfu syakban.
Memahami hal tersebut, apa yang sebaiknya dilakukan di bulan Syakban yang sejalan dengan tuntunan Al-qur’an dan As-sunnah Al Muqbullah?
Pertama, memperbanyak menunaikan puasa dibulan syakban, memperbanyak puasa dibulan syakban merupakan sunnah Rasullullah saw. Dalam kesaksian ‘Aisyah R.a., Ummul-Muqminin, Rasullullah memperbanyak puasa dibulan Syakban.
Dari Aisyah ra., (diriwayatkan bahwa) ia berkata: …aku tidak pernah melihat Rasullullah saw. Berpuasa satu bulan penuh, kecuali di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunnah) di satu bulan melebihi puasanya dibulan Syakban. (Hr.Bukhori dan Muslim)
Bulan Syakban merupakan bulan persiapan memasuki bulan Ramadhan. Puasa di bulan Syakban dengan segala amal kebajikan, merupakan upaya mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan spiritual dalam menghadapi bulan Ramadan, karena bulan ini adalah bulan suci, bulan maghfirah, dan bulan barokah.
Kedua, mengucapkan Tahniah, selamat atas kedatangan Bulan Ramadan. Memasuki bulan Ramadan, Rasullullah menggembirakan para sahabat dengan berbagai keutamaan bulan Ramadan dan menyampaikan Tahnia kepada para Sahabat. Ada baiknya sesame muslim – muslimah menyampaikan tahnia, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Di antara riwayat Rasullullah saw yang menunjukkan kegembiraan orang berpuasa, adalah:
Diriwayatkan dari Abu hurairah ra., (dilaporkan kepda nabi Muhammad saw. (bahwa) beliau bersabda: orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan ketika menghadap Tuhannya yang Maha Perkasa lagi maha Agung) (H.r.ahmad dari abu hurairah)
Ketiga, mengadakan kegiatan perempuan mengaji untuk “Songsong bulan Ramadan”. Dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Salman Ra; diakhiri syakban, Rasullullah berkhotbah dihadapan para sahabat untuk menyampaikan keutamaan dan keistimewaan bulan ramadhan.
Untuk menghidupkan dan melestarikan sunnah Rasul, dalam rangka songsong Bulan Ramadhan, ada baiknya ketika kegiatan perempuan mengaji difokuskan pada kajian dan dialog tentang puasa Ramadan, untuk mengingkatkan kembali putusan Tarjih tentang tuntunan Ramadhan, di antaranya; maklumat PP Muhammadiyah tentang awal Bulan Ramadan dan Syawal menurut perhitungan KHGT. Keutamaan dan hikmah puasa Ramadan, Kaifiah puasa Ramadan, perempuan puasa Ramadan, dan amalan – amalan di bulan Ramadan.
Kegiatan ini disyiarkan dengan kegiatan pendukung, semisal bazar keperluan puasa, pasar amal, dengan harga amal, pemeriksaan kesehatan, dan bantuan – bantuan untuk keluarga Dhuafa-Mustardhafin, difabel, dan kelompok rentan lainnya.
Dengan menyelenggarakan kegiatan – kegiatan tersebut berarti kita telah menghidupkan dan melestarikan sunnah Rasul dalam menyambut Ramadhan.
“Ada baiknya sesama Muslim – Muslimah menyampaikan Tahniah, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan”
