Keteladanan Guru dan Penguatan Literasi Sekolah
Oleh: Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd.
Ing Ngarso Sung Tulodo (seorang guru wajib di depan untuk memberikan teladan), Ing Madyo Mangun Karso (Seorang guru harus bisa menempatkan posisi di tengah untuk menjadi inspirasi) dan Tut Wuri Handayani (seorang guru di belakang untuk memberikan dorongan atau motivasi). (Ki Hajar Dewantara)
Bila kita membedah semboyan tersebut kita akan memahamai bahwa guru adalah peneladan sejati bagi siswa-siswinya di sekolah.
Misalnya, jika seorang guru mengamalkan nilai-nilai ulet, disiplin, tanggung jawab dan berprestasi, secara otomatis siswa juga akan ikut mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kegiatan mereka.
Lalu bagaimana kaitan keteladan guru dan penguatan literasi siswa di sekolah?
Literasi secara sederhana dapat diartikan sebagai baca-tulis, namun dalam pemaknaan yang lebih luas bisa diartikan sebagai kemapuan seseorang dalam menginterpretasi bacaan atau menghasilkan tulisan.
Pertanyaannya, sudahkah kegiatan literasi membumi di sekolah?
Bila berkaca dengan apa yang saya alami di sekolah, literasi belum membumi, bahkan aktivitasnya terkesan seremonial.
Literasi diartikan sekolah dengan membuat pojok baca di kelas atau menerbitkan buku karya siswa dan guru, namun setelah itu aktivitas literasi kembali pada zona “sepi”.
Lihat saja ketika istirahat, siswa akan lebih memilih ke kantin sekolah lalu kembali ke kelas daripada ke perpustakaan.
Maka hal apa yang bisa diteladankan guru dalam kaitan penguatan litersi siswa di sekolah?
Pertama, membiasakan siswa membaca di awal pebelajaran, membuat ringkasan tentang apa yang dibaca dan mempresentasikan hasil ringkasan di depan kelas.
Aktivitas tersebut selain mengajarkan siswa untuk dapat mengakses sumber bacaan juga mengajarkan siswa untuk memahami apa yang dibaca serta mengomunikasikan bacaan tersebut kepada orang lain.
Hal itu dilakukan dengan harapan, membaca menjadi kebiasaan siswa untuk mendapatkan suatu informasi yang dibutuhkan.
Kedua, mengajak siswa berkunjung ke perpustakaan, hal itu saya lakukan dengan memberikan tugas kepada siswa dengan kewajiban mengambil referensi buku dari perpustakaan sekolah.
Seumpama saya memberi tugas tentang sejarah kemerdekaan Indonesia, maka siswa dalam mencari jawaban harus di perpustakaan sekolah.
