Oleh: Ildo Saputra – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Ketapang laut (Terminalia catappa) merupakan salah satu jenis tumbuhan pantai yang sangat mudah dijumpai di wilayah pesisir Kepulauan Bangka Belitung. Pohon ini biasanya tumbuh di sepanjang pantai berpasir, kawasan pemukiman pesisir, hingga ruang terbuka hijau di daerah perkotaan.

Meskipun keberadaannya cukup melimpah, ketapang laut sering kali hanya dipandang sebagai pohon peneduh tanpa nilai ekologis yang signifikan. Padahal, jika ditinjau lebih dalam, ketapang laut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Bangka Belitung yang rentan terhadap abrasi, pencemaran, dan tekanan aktivitas manusia.

Wilayah Bangka Belitung dikenal sebagai daerah kepulauan dengan garis pantai yang panjang, sebuah kondisi yang menjadikan wilayah pesisirnya sangat rentan terhadap abrasi pantai, terutama di daerah yang minim vegetasi pelindung.

Baca Juga  Indah Sawah Tebing: Dari Workshop ke Aksi Nyata Menuju Agrowisata Berkelanjutan di Bangka Barat

Salah satu upaya alami yang dapat dilakukan untuk mengurangi abrasi tersebut adalah dengan mempertahankan dan menanam vegetasi pantai seperti ketapang laut. Akar ketapang laut mampu mengikat tanah berpasir dan membantu menahan laju pengikisan pantai akibat gelombang laut dan pasang surut air laut.

Lebih dari sekadar pelindung fisik, ketapang laut berperan krusial dalam mitigasi perubahan iklim global melalui penyerapan karbon dioksida (CO²). Berdasarkan penelitian internasional, ketapang laut memiliki kapasitas penyerapan yang CO² sangat tinggi dibandingkan spesies pohon perkotaan lainnya, yakni sebesar 0,511 gram/daun/jam. Dalam skala ekosistem, tegakan ketapang mampu menyimpan cadangan karbon hingga 3,04 ton/ha dengan total biomassa mencapai 6,09 ton/ha, menjadikannya komponen penting dalam skema karbon biru pesisir.

Baca Juga  Peran Jambu Mete dalam Rehabilitasi Lahan Pascatambang dan Mitigasi Emisi Karbon