Hal itu dilakukan dengan mencantumkan tanggal, judul buku, pegarang dan halaman buku yang diambil sebagai jawaban serta paraf petugas perpustakaan sebagai bukti kunjungan.

Melalui pembiasaan tersebut, diharapkan siswa terbiasa untuk mengakses sumber bacaan di perpustakaan dan akhirnya bila ada hal-hal yang tidak dipahami tentang suatu materi, siswa akan mencari jawabanya dengan membaca di perpustakaan sekolah.

Ketiga, membuat blog terkait materi ajar, di zaman yang serba canggih seperti saat ini, literasi telah berkembang pesat, sehingga materi tidak hanya diakses melalui buku namun juga berbasis web.

Oleh karena itu, salah satu cara yang saya lakukan untuk memberi teladan bagi siswa adalah dengan membuat blog terkait materi ajar.

Baca Juga  Ethno-VR dan Eco-Mix: Integrasi Teknologi dan Kearifan Lokal untuk Pembelajaran Berkelanjutan

Blog tersebut bisa diakses siswa ketika mempelajari materi tertentu dan setiap siswa yang mengunjungi blog tersebut saya minta untuk meninggalkan komentar tentang materi yang dibaca.

Bahkan dalam memberikan tugas saya juga sering melakukanya melalui blog tersebut, sehingga siswa harus mengakses alamat blog tersebut sebelum mengerjakan tugas yang diberikan.

Hal itu dimaksudkan agar siswa terbiasa untuk berliterasi secara positif dan memahami pemanfaatan internet secara baik.

Keempat, menulis di media masa, ketika saya meminta siswa untuk membiasakan literasi, maka saya juga harus memberikan contoh terlebih dahulu.

Oleh karena itu setiap saya menulis di media masa baik cetak atau elektronik, maka saya akan mengirimkan link tulisan tersebut di grup whatsapp siswa, sehingga siswa memiliki motivasi untuk bisa menulis seperti yang saya lakukan.

Baca Juga  Labelisasi Kemiskinan: Tinjauan Sosiologis atas Kebijakan Pemasangan Stiker “Keluarga Miskin” pada Penerima Bansos

Kelima, membaca sebagai nilai, pada pelajaran IPS yang saya ajarkan, selaian dari nilai kognitif, afeksi dan psikomotorik, saya juga membuat penilaian membaca siswa.

Nilai itu dikonfersi dari banyaknya bacaan siswa  dalam satu semester, 3 – 4 buku nilai 60, 5 – 6 buku nilai 70, 7-8 buku nilai 80 dan 9-10 buku nilai 90.

Penilaian itu dilakukan dengan jurnal khusus yang diberikan pada siswa dengan isian judul buku, pengarang, halaman buku, halaman yang dibaca, kepentingan membaca buku, manfaat yang diperoleh dan paraf dari orang yang menyaksikan membaca buku.

Keteladanan guru dalam menguatkan literasi siswa di sekolah sangat nyata dan penting adanya, sehingga siswa terbiasa untuk berliterasi dalam mengakses atau mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Baca Juga  Kesehatan Mental Remaja

Salam gerakan literasi sekolah, salam guru literat dan salam siswa pandai berliterasi.

Bangka Selatan, 14 November 2024

Penulis merupakan seorang pengajar di SMPN 2 Tukak Sadai.