Cinta Segi Enam (Puber ke-2)
Andai waktu bisa berjalan mundur, aku akan menghentikannya saat umurku seusia Reni. Hah…pikiran gila! Kucoba menggelengkan kepala agar bayangan satu wajah itu terhempas dari kepalaku.
Tapi apa yang terjadi? Wajahnya masih saja melekat di jidat, di pelupuk mata dan masuk lagi ke otakku. Ini tak bisa kubiarkan. Ini salah. Namun aku harus berbuat apa? Setiap hari aku masih melihatnya. Setiap saat masih berjumpa, bicara, bercanda. Oh..Tuhan, ampuni aku.
Suatu hari saat jam istirahat, entah motif apa yang menggiringku untuk mengirim pesan WhatsApp padanya.
“Bu, kita kok bisa seakrab ini, ya? Maaf ya kalau saya lancang dan tak tahu diri…”
“Tidak Pak. Reni yang minta maaf jika sering berlebihan dalam bercanda” balas Reni diselipi emoji pipi memerah.
Itu justru membuatku semakin galau. Apakah ia membuka hati, atau aku yang terlalu percaya diri?
“Dasar lelaki tua tak tahu diri!” umpat sang nurani berusaha menampar kesadaranku.
Aku pun termenung sejenak meresapi nasihat sang nurani yang nadanya kian meninggi.
“Tuhan tunjukkan hamba jalan yang terbaik atas semua ini” itu doaku setiap saat.
***
Rabu pagi aku datang jam 07.20. Kepala sekolah menghampiriku dengan ramah .
“Pak Ridwan, baru saja Kabid menelpon saya. Jam 9 nanti Bapak ditunggu di kantor Dinas Pendidikan. Tolong datang tepat waktu ya,” ucapnya
Aku bertanya-tanya dalam hati, ada masalah apa? Apa karena kedekatanku dengan Reni? Semoga tidak. Sebisanya aku kibaskan pikiran-pikiran negatif yang bersarang di kepalaku.
Dengan segudang tanya di kepala, aku bergegas menuju ke parkiran menghampiri si motor tua yang termenung sendu. Beberapa tetes oli mesin terlihat membasahi lantai parkiran. Ah…sedih sekali aku melihatnya. Mungkin dia menangis karena kurang perhatian dariku.
Dari arah gerbang terlihat sebuah sepeda motor matic warna merah muda mendekat. Itu Reni.
“Assalamualaikum, Pak. Mau kemana pagi-pagi?” Sapanya dengan senyum lesung pipit.
“Waalaikumsalam. Mau ke Dinas Pendidikan, dipanggil Pak Kabid,” jawabku.
“Hati-hati ya Pak,” pesannya santun.
“Oke Bu Guru…hehehe” sahutku cepat sambil sedikit menggoda.
Dan untuk kesekian kali senyuman indah itu dihadiahkan padaku, sorang bapak berumur 40 tahun dengan tiga anak dan istri yang garang.
“Dasar tak tahu diri! Coba berkaca di spion motor bututmu itu Ridwan! Kamu sudah tua!” Hardik sang nurani yang tampak semakin bosan menasihatiku.
“Jadi, begini Pak. Pertama saya ucapkan terimakasih atas kesediaan Pak Ridwan untuk datang memenuhi undangan saya, kemudian yang kedua…..” Pak Kabid menghentikan kalimatnya beberapa detik. Perasaanku campur aduk. Ada apa ini? pelanggaran apa yang sudah kuperbuat?
Dalam hati bertanya -tanya disertai detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.
“Selamat Pak Ridwan, Anda dipercaya oleh Dinas Pendidikan untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Negeri 1 Tobaila, ini SK nya” sambung Pak Kabid sambil menjabat tanganku erat.
Aku tertegun. Terkejut sekaligus lega.
“Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan berusaha menjalaninya,” jawabku spontan.
Saat pulang, kuhampiri motor tuaku yang berdiri miring di sudut parkiran.
Kulihat oli dibawah mesin menetes lebih banyak dari biasanya. Mungkin saja ia menangis terharu karena mulai besok pemiliknya adalah Kepala Sekolah di SD Negeri favorit di kota.
Namun, di sepanjang jalan, wajah 30 muridku dan wajah Reni berseliweran di kepala.
Besok aku harus meninggalkan mereka. Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan keluargaku dari kehancuran. Poligami? Cinta segi enam? Jelas aku tak sanggup.
***
Kamis pagi 22 Januari 2026, aku berpamitan.
Murid-murid kelas 6 menangis tersedu-sedu melepasku.
Di depan ruang guru, aku melihat Reni terhenyak. Ia merasa akan kehilangan sosok “ayah” yang sering menghiburnya. Yang jelas, bukan kehilangan cintanya. Begitulah cara aku menasihati diri sendiri.
“Jadi bapak benar-benar akan pergi?” tanya Reni sambil menghampiriku dengan wajah lesu.
“Tugas memanggil, Bu Reni. SD Negeri 1 Tobaila butuh nahkoda baru,” jawabku sambil mengangguk mantap.
Dengan suara serak Reni berkata lirih.” Siapa lagi yang bakal bercerita konyol di ruang guru? Sekolah ini bakal sepi Pak…”
Aku pun tersenyum tulus “ Masa depan masih panjang, jangan habiskan waktu untuk mengobrol dengan pria tua beranak tiga yang motornya saja sudah sering menangis seperti itu”
“Hati-hati Pak Kepala Sekolah,” kata Reni sembari tersenyum sedih.
“Terima kasih. Titip salam untuk anak-anak,” pungkasku mengakhiri kesedihannya.
Kuhidupkan mesin motor tuaku yang berbunyi kasar dan berasap. Tetesan oli motorku hari ini menjadi tetesan terakhir yang akan menjadi kenangan bagi lantai parkiran SD Negeri 38 Tobaila.
Aku pergi membawa dua kardus besar dokumen dan memboyong pulang seluruh perasaanku hanya untuk istri dan anak-anakku. Aku menyudahi kisah yang salah waktu ini.
Sejak saat itu, sang nurani tak pernah lagi membentak dan memarahiku lagi.
Kami sudah berdamai. Toboali 11 Februari 2026
