“Alhamdulillah Bu, Rio masuk peringkat ke 3 di kelas. Selamat ya.”ucapku sambil mengulurkan tangan menyalami Yuk Yeti.

“Terimakasih Pak Guru atas bimbingannya,” jawab yuk Yeti sembari mengulurkan tangannya yang lembut disertai wajah beseri-seri dan tatapan sedikit mesra.

Melihat gerak-geriknya, membuatku salah tingkah. Titik-titik keringat spontan muncul dari keningku.

“Sama-sama Bu,” sahutku singkat mengakhiri situasi yang membuatku mati gaya sesaat.

Sore harinya, saat aku sibuk mengepak barang, sebuah pesan masuk: “Assalamualaikum, Pak Guru bisa minta tolong ke rumah sebentar?”.

“Waalaikumsalam. Ya Yuk, tunggu ya,” balasku.

Di rumahnya, sudah ada empat kardus berisi kemplang, belacan, emping, dan ikan asin untuk oleh-oleh.

“Bisa bantu menali kardus ini, Pak Guru,?” pintanya sambil menyodorkan tali rafia merah muda.

“Wah banyak sekali Yuk, saya jadi malah merepotkan” kataku terkejut melihat tumpukan kardus didepanku.

“Ah…tidak. ini belum seberapa dibanding nilai kehadiran Pak Guru dalam kehidupan kami” kata Yuk Yeti terang-terangan memujiku.

Mendengarnya, aku jadi pusing dan agak gemetar. Entah karena grogi, kaget atau lapar. Setelah beberapa menit kuberusaha mengkikat kardus-kardus itu dengan sisa-sisa kemampuanku dibidang tali menali saat ikut kegiatan Pramuka, tiba-tiba Yuk Yeti si janda muda itu tertawa kecil dan berkata “ Aduh, orang kota memang tak pandai mengikat barang.”

Baca Juga  Guam

“Saya bantu ya Pak Guru ganteng,” lanjut Yuk Yeti disertai lirikan manja.

“Tolong tarik ya, Pak,” instruksinya. Karena terlalu semangat dan grogi, aku malah salah pegang. Bukan talinya yang kutarik, tapi tangan Yuk Yeti yang kuraih dan tanpa sengaja hendak kuikat.

“Maaf, Yuk!” wajahku memerah seperti udang rebus.

‘’Wah.. Ini malah mirip adegan sinetron picisan di TV swasta berlogo ikan besi itu” pikirku.

“Memangnya Pak Guru ada niat bawa saya pulang ke kota ya? Kok tangan saya yang diikat?” selorohnya ringan yang membuatku ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Malu.

Setelah menempuh perjalanan laut dan darat yang cukup panjang, akhirnya aku sampai ke rumah.

Ayah, ibu dan adikku menyambut kepulanganku dengan bahagia. Ku bisa melihat tebalnya rindu pada sorot mata mereka.

“Oh ternyata kamu terpikat janda ya Gus, pantaslah kamu betah dan jarang WA kami di sini,” kata Ibu menggodaku setelah kuceritakan semua tentang Yuk Yeti janda muda pemilik toko kelontong depan sekolah.

Memang, selama ini apapun yang terjadi dan kurasakan, selalu kusampaikan pada Ibu. Tak pernah ada rahasia. Karena aku paham seutuhnya, Ibuku sosok yang terbuka dan mencintai kejujuran anak-anaknya.

Baca Juga  Hijab untuk Nun

Ibu memaklumi, karena aku tak pernah seantusias ini bercerita tentang seorang wanita padanya. Mungkinkah aku sesungguhnya telah jatuh cinta pada seorang janda?

Setelah libur semester ganjil usai, aku kembali menuju pulau kecil itu untuk melanjutkan pengabdianku.

“Mungkin memang sudah jodoh, berdoa saja ya Nak Guru, semoga dipermudah jika memang itu yang terbaik, ” kata Pak Ustaz Yanta suatu malam setelah Isya’ di teras mushola ujung kampung.

Nasihat itu bagai siraman mata air pegunungan yang tiba-tiba muncul di tengah pesisir yang berhawa terik. Jujur saja, selama ini hari-hariku dipenuhi kebimbangan.

Akankah aku sanggup menjadi bapak sambung yang baik bagi Rio?
Apa kata orang nanti jika aku menikah dengan janda muda kaya dan dicap sebagai lelaki materialistis? Pahlawan kesorean ? Dan tentu seabrek label yang orang sematkan padaku.
Siapkah aku? Kupasrahkan semua itu pada Yang Kuasa.
Setelah perenungan panjang dan bimbingan spiritual dari Pak Ustaz Yanta di musala ujung kampung selama hampir satu bulan, keraguanku sirna.

Baca Juga  Jiwa Mereka yang Tersesat

“Wahai Bagus Putra Pratama Bin Haji Ahmad Syamsuri saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Yeti Oktaviani Binti Haji Gushairi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat 7 gram, dibayar tunai,” ucap pak penghulu sembari menjabat tanganku.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Yeti Oktaviani Binti Haji Ghusairi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” jawabku mantap dan penuh keyakinan.
“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya pak penghulu.
“Sah!” jawab para saksi hampir serempak.
“Alhamdulillah…!” gemuruh suara seisi masjid menyambut pernyataan para saksi.

Kini, aku tak perlu lagi merasa tidak enak pada tetangga saat menerima rantang hijau susun tiga.

“Bang, sebenarnya aku tertarik sejak pertama melihatmu saat mengantar Rio di hari pertama masuk sekolah,” bisik Yeti suatu malam sambil bersandar di dadaku.

“Oh, pantas saja hari itu bulu kudukku berdiri,” godaku.

“Kamu pikir aku kuntilanak?!” teriaknya sambil mencubit lenganku dengan keras.

Kami tertawa lepas, lalu berguling-guling persis seperti adegan film India kesukaan Ibu.

Dan kejadian selanjutnya?
Biarlah menjadi rahasia dibalik tumpukan rantang kami.

Toboali, 16 Februari 2026
Agus Bachtiar K
Sang Pengulik Pena
Tinggal di Toboali, Bangka Selatan