Karya: Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan

 

“Nun bangun Nak, nanti kamu terlambat ke sekolah,” ujar Ibu sambil membuka jendela kamar Nun.

“Huamm, Nun masih ngantuk Bu,” ucap Nun malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Bangun Nun, Katanya hari ini ada ulangan matematika,” ujar Ibu mengingatkan.

“Astaghfirullah, Nun lupa!” Nun segera bangun dari tempat tidur nya. Namun karena terburu-buru, kepala nya menjadi pusing. Selain itu, kaki nya terlilit selimut yang berakhir Nun terjatuh di lantai.

Brukk!

“Aduhh,” rintih Nun sambil mengelus kepalanya.

“Makanya Nun, jangan terburu-buru. Sesuatu hal yang terburu-buru itu tidak baik,” nasihat Ibunya sambil membantu membangunkan Nun.

Baca Juga  Pertanyaan dan Perasaan yang Tak selesai

Sedangkan Nun hanya terkekeh kemudian ia segera menuju kamar mandi. Sedangkan Ibunya hanya menggelengkan kepalanya.

Setelah selesai mandi, Nun segera memakai baju putih birunya. Tak lupa ia juga membereskan buku-buku pelajarannya dan dimasukkan ke dalam tasnya.

Setelah menyisir rambutnya, Nun segera keluar dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.

“Lho Nun, Kamu enggak pakai hijab yang Ibu kasih semalam?” tanya Ibu kala melihat Nun telah duduk di kursi.

“Enggak Bu, males,” jawab Nun acuh. Ia segera mengambil piring dan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk ikan goreng.

“Jangan begitu Nun, Ibu sudah belikan, kamu harus memakainya,” ujar Ibu sambil masuk ke kamar Nun untuk mengambil hijab putih di lemari.

Baca Juga  Di Balik Lubang Besar

Kemudian Ibu memberikan hijab putih tersebut kepada Nun.

“Setelah sarapan, kamu pakai hijab,” perintah Ibu nya.

“Nun tidak mau pakai hijab Bu, panas,” ujar Nun sambil menolak hijab pemberian ibunya.

“Tapi Nun sudah besar, sudah seharusnya Nun menutup aurat,” ujar Ibunya terus membujuk Nun.

“Teman-teman Nun banyak kok yang enggak pakai hijab. Sekarang itu udah zaman modern Bu. Pakai hijab yang syar’i kayak gitu, malah kayak ibu-ibu mau pengajian,” ujar Nun kekeh dengan pendiriannya. Nun kemudian segera menyelesaikan sarapannya.

“Nun, Kita hidup jangan mau diperbudak sama dunia. Mau sampai kapan pun, tren fashion akan terus bertambah. Kalau kita mengikutinya, kita akan menyesal Nak. Kita hidup di dunia itu hanya sementara. Jangan mau diperbudak sama dunia. Masa, menuruti perintah Allah tidak mau. Padahal jelas-jelas orang Islam.  Nun, Nun,” Ibu nya memberikan nasihat sambil menggelengkan kepalanya.

Baca Juga  Penyesalan sang Lelaki