Ibu meletakkan hijab di kursi dekat meja makan.

“Nun, dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 dijelaskan. bahwa, seorang perempuan yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya). Nun sekarang kan sudah baligh, sudah seharusnya menutup aurat. Ibu tidak memaksa mu Nun, Tetapi Ibu berharap kamu memahami maksud dari perintah Ibu,” ujar Ibu sambil memasukkan beberapa potong ikan ke dalam kotak bekal.

“Nun belum siap Bu saat ini. Kalau udah siap pasti Nun akan pakai,” ujar Nun. Setelah selesai sarapan ia meminum air di gelas. Kemudian Ia segera memakai sepatunya.

Baca Juga  Poeloeng

“Malaikat maut datang kapan saja Nun. Tidak menunggu siap atau tidak siapnya seorang manusia. Kamu mau, meninggal dalam keadaan auratmu yang terbuka? Enggak kasihan kamu sama Abah yang akan menanggung dosamu akibat terbukanya auratmu itu?” ujar Ibu, Ia memasukkan bekal kedalam tas merah Nun.

Gerakan tangan Nun ketika memakai sepatu pun seketika berhenti. Seolah ada bongkahan batu yang menimpa dirinya saat itu.

Ia tersadar akan kalimat Ibunya. Benar juga, Kalau ia tidak mau menutup aurat, Abahnya yang akan menanggung dosanya.

Bahkan, Nun tidak pernah melihat wajah Abahnya. Karena Abahnya telah meninggal dunia saat Nun masih di dalam kandungan.

Betapa durhakanya dia kepada Abah nya. Astaghfirullah Al azim…

Baca Juga  Hirarki Anak Bawang

Nun segera meraih hijab di atas kursi. Nun memasuki kamarnya, Kemudian ia mendekati kaca dan segera memakai hijab persegi empat yang berwarna putih tersebut.

Sedangkan Ibu menatap heran kepergian Nun. Apa yang akan dilakukan Nun? Apakah membuang hijab itu? Pikir Ibunya.

Setelah selesai dengan hijab nya, Nun memandangi wajahnya di cermin. Nun tersenyum manis.

“Bismillah, semoga dengan begini Abah bisa masuk surga,” ujar Nun, Setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju Ibunya.

“Nun berangkat ya Bu, terima Kasih atas nasihatnya hari ini,” ujar Nun tersenyum.

“Masya Allah, Semoga istiqamah ya Nun. Awalnya memang terpaksa, tapi lama-lama akan terbiasa. Abah pasti bangga sama kamu,” ujar Ibu tersenyum, ia mencium kening Nun.

Baca Juga  Nganggung: Tradisi Budaya, Sumber Nilai dan Identitas Pulau Bangka (Selesai)

“Aamiin, Nun berangkat ya. Assalamualaikum,” salam Nun setelah memakai tasnya, tak lupa juga menyalami tangan ibunya.

“Waalaikumussalam,” jawab Ibu, Ia juga mengantarkan Nun sampai depan pintu.

“Hati-hati Nun di jalan, kalau udah pulang sekolah, langsung pulang ke rumah ya,” Ibunya mengingatkan.

“Iya Bu, Dadah,” ujar Nun kemudian segera mengayuh sepeda ungunya.

Ibu melambaikan tangannya kepada Nun.

“Anak mu cantik sekali Mas, semoga Nun menjadi anak yang sholehah ya Mas,” ujar Ibu sambil tersenyum haru seolah-olah ada sang suami di dekatnya.

Tamat