Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Al-Qur’an menyebut kisah Nabi Yusuf as sebagai ahsanal qashash, kisah terbaik. Sebuah predikat yang tidak diberikan kepada kisah nabi lain secara eksplisit. Padahal, di dalamnya tidak ada peperangan besar, tidak ada mukjizat yang mengguncang alam, dan tidak ada kaum yang dihancurkan seketika. Yang ada justru rangkaian peristiwa keluarga, perasaan, kecemburuan, pengkhianatan, kesabaran, dan pemulihan. Bahkan kisah menjadi Bendahara kerajaan pun dapat dibaca sebagai rangkaian peristiwa keluarga.

Surat Yusuf terdiri dari 111 ayat, dan diturunkan secara utuh dalam satu rangkaian, tidak terpisah-pisah seperti banyak surat lain. Para ulama tafsir menyebutkan bahwa surat ini turun di fase yang sangat berat dalam hidup Rasulullah saw, fase yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan. Di saat Rasulullah kehilangan istri tercinta Khadijah dan pelindungnya Abu Thalib, Allah justru menurunkan sebuah kisah keluarga yang penuh luka, tetapi berakhir dengan pemulihan yang indah.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 3)

Seakan Allah ingin berkata, bahwa kesedihan yang paling dalam sering kali datang dari orang-orang terdekat, dan jalan keluar dari luka itu pun sering dimulai dari hati yang mampu bersabar. Berkenaan dengan hal ini, Imam Atha’ mengatakan, “Tidak ada orang yang bersedih kecuali dia akan merasa tenang ketika mendengar surah Yusuf.”

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa penyebutan ahsanal qashash bukan karena kisah ini paling dramatis, tetapi karena paling lengkap menggambarkan perjalanan jiwa manusia. Di dalamnya ada masa kecil dan masa dewasa, ada rumah dan istana, ada sumur dan singgasana. Semuanya dialami oleh satu orang, dalam satu alur kehidupan yang utuh.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 18): Ayah yang Tidak Berhenti Berharap

Sementara itu, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa keistimewaan Surat Yusuf terletak pada kesinambungan ceritanya. Setiap ayat saling terhubung, setiap peristiwa punya dampak, dan tidak ada satu pun episode yang berdiri sendiri tanpa hikmah.

Para ulama mengatakan bahwa Allah SWT menyebutkan kisah para nabi dalam Al- Qur’an dan mengulang-ulangnya dalam satu makna dan tujuan yang berbeda-beda juga dengan lafal yang bertingkat-tingkat dari segi baahasa. Allah juga menyebutkan kisah Yusuf, namun Allah tidak mengulangnya. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kisah-kisah Al-Qur’an baik yang disebut secara berulang-ulang maupun yang tidak berulang-ulang dan keseluruhannya adalah mukjizat bagi orang yang berpikir.

Baca Juga  5 Tips Stamina Tak Kendur Meski Berpuasa

Namun ada satu sisi yang sering terlewat ketika Surat Yusuf dibaca, yaitu sisi keluarga.