Masjid Penuh, Hati Penuhkah?
Dengan adanya bulan Ramadan ini, kita mulai memupuk hati kita yang selama ini gersang dan penuh dengan kerikil yang halus sehingga kita merasa hablum minallah terasa jauh. Mari mulai Ramadhan pertama sampai akhir kita rawat Qalbu kita dengan baik dan melaksanakan kewajiban kita seperti salat kita lakukan penuh dengan keihklasan karena Allah. Karena salat tidak hanya sebuah gerakan berdiri, rukuk dan sujud. Ia adalah dialog sunyi antara manusia dan penciptanya. Ketika hati hadir, ibadah kehilangan ruhnya.
Di masyarakat kita, Ramadan juga menjadi tradisi sosial. Tarawih bersama, buka puasa bersama, berbagai makanan, hingga kegiatan keagamaan yang meriah. Semua ini adalah bagian dari keindahan budaya Islam yang mempererat persaudaraan. Namun ada satu sisi yang harus kita jaga. Kadang kita ke masjid ikut- ikutan. Karena teman datang. Karena lingkungan ramai. Larena takut dianggap tidak aktif. Bukan karena dorongan kesadaran pribadi. Sehingga ibadah berubah menjadi kegiatan sosial. Apakah salah? Tidak salah, tetapi belum cukup.
Sebab perubahan sejati tidak lahir dari tekanan lingkungan melainkn dari kesadran hati. Ramdahan seharusnya menjadi momentum kembali mengenal diri, siapa kita, apa tujuan kita dan ke mana kita akan kembali. Jika masjid hanya menjadi tempat berkumpul tanpa perubahan sikap setelahnya, maka ramdahan berlalu tanpa meninggalkan jejak dan bekas. Semuanya dimulai dari Qalbu kita, jika hati kita di didik dengan baik, semua anggota tubuh kita akan baik.
Pertanyaan yang bisa kita renungkan, hati yang penuh itu seperti apa? Hati yang penuh bukan berarti selalu menangis dalam doa atau terlihat sangat religious. Justru hati yang penuh itu terlihat dalam perubahan kecil yang nyata. Kita lebih mudah memaafkan, lebih ringan membantu, lebih tenang menghadapi masalah dan lebih sedikit mengeluh.
Ketika hati ini mulai hidup, ibadah tidak terasa berat. Masjid bukan lagi kewajiban, tetapi kebutuhan. Kita datang bukan karena suasana Ramadhan, tetapi karena merasa kehilangan jika tidak datang. Di titik inilah ibadah menemukan maknanya. Ibadah juga bukan tentang ksempurnaan, tetapi tentang kejujuran hati. Ramadan mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran yang kecil diulang setiap hari.
Ramainya masjid setiap Ramadan adalah harapan besar bagi masyarakat kita. Itu tdna bahwa cahaya iman belum padam. Namun harapan itu akan menjadi nyata hanya jika keramaian tersebut berlanjut menjadi perubahan hati. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak melihat seberapa penuh masjid kita, tetapi seberapa hidup hati kita.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang setiap salat tarawih bukanlah, “berapa banyak orang yang datang malam ini?” melainkan, “apakah hatiku hari ini lebih dekat daripada kemarin” jika jawabnnya iya, maka Ramadan benar- benar sedang bekerja dalam diri kita. Dan di saat itulah, masjid bukan hanya penuh oleh manusia melainkan penuh oleh hati yang kembali hidup.
