Mendengar alasan yang kedua ini, sang anak menjadi heran sekaligus penasaran. Dengan polosnya sang anak bertanya.

“Kenapa bisa begitu Pak?”

“Alat setrum itu akan membunuh semua ikan, dari yang besar sampai yang kecil.”

“Jadi, nanti semua akan mati dan tidak akan ada lagi keturunan ikan-ikan itu.”

“Akibatnya dalam waktu dekat tidak akan ada lagi spesies ikan di daerah yang terkena setrum.”

Pak Anto terus menjelaskan tanpa menunggu respons dari sang anak.

“Berarti sama saja seperti mengambil buah dengan cara menebang pohonnya.”

Sang anak mencoba memberikan ilustrasi.

Pak Anto bertambah kagum dengan kecerdasan anaknya. Pak Anto memegang kepala anaknya dan menatapnya dengan penuh kebanggaan.

“Pekarang kamu sudah pahamkan?”

“Iya pak, saya paham.”

“Sekarang kamu tidur, nanti bapak yang jaga.”

Baca Juga  Pantun: Dak Beraik Agik

Sang anak pun mulai merebahkan tubuhnya di atas perahu buntung itu. Dan dalam hitungan menit sang anak sudah terlelap dengan mimpinya. Terlihat wajahnya polosnya yang masih memiliki masa depan yang indah.

Pak Anto sangat paham daya pikir sang anak. Di saat susahnya mencari ikan dengan alat tradisional sang anak ingin mendapatkan ikan dengan cara yang praktis. Hal itu kemungkinan didapat sang anak karena melihat teman-teman bapaknya sudah memakai alat setrum yang dianggap modern.

*****

Perahu buntung pak Anto mulai bergerak kembali ke rumahnya. Pak Anto menggerakkan perahunya dengan sebuah kayu panjang. Pak Anto sering menyebutnya satang. Beberapa tajur dan pukatnya sudah berada di atas perahu buntungnya. Terlihat ada beberapa ekor ikan yang didapat. Jika ditaksir sekitar satu kilo. Walaupun dibanding dengan kawan-kawannya yang memakai setrum, hasil yang didapat pak Anto masih kalah, namun pak Anto sudah bersyukur mendapatkan rezeki hari itu. Sang anak masih terlelap di depan perahu buntung itu.

Baca Juga  10 Oktober Waktu Itu

Setelah sekitar setengah jam berjuang mengendarai perahu buntungnya, akhirnya pak Anto sampai di rumahnya. Sebuah rumah panggung sederhana yang semuanya terbuat dari atap. Dari dinding sampai atap terbuat dari atap. Sang istri sudah standby di depan teras. Sang istri yang hapal betul dengan jadwal kepulangan sang suami, tampak semringah menyambut kedatangan suami tercintanya.

*****

Hari berangsur mulai pagi. Sepiring singkong rebus dan segelas kopi yang masih hangat menemani pak Anto dan keluarga. Obrolan ringan dan penuh tawa menghiasi majelis keluarga pak Anto pagi itu. Tampak sekali kebahagiaan terpancar dari keluarga kecil itu. Di tengah sulitnya mencari rezeki sebagai pencari ikan. Keluarga itu tetap optimis dan tidak pernah mengeluh. Di saat orang-orang beralih dengan peralatan modern tapi merusak, keluarga itu tetap dengan peralatan sederhananya yang ramah lingkungan.

Baca Juga  Hikayat Jiwa

Perahu buntung pak Anto menjadi saksi bisu, betapa gigihnya pak Anto mencari nafkah demi memperjuangkan keluarganya. Perahu buntung itu menjadi saksi integritas pak Anto dalam memegang prinsip, tidak akan merusak habitat hewan demi keuntungan sesaat.

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]