Ayam Goreng Krispi Pedas
“Loh. Kenapa seperti itu? Kenapa ibunya tak diajak? Egois sekali dia.” Kakek itu tersenyum. Matanya menjadi garis lengkung. Menepuk kepala cucunya.
Ibunya tak pernah setuju dia beli 1 ekor ayam krispi pedas karena dia harus memikirkan kondisi rumahnya. Setidaknya, itu yang ia pikirkan. Bagaimana jika besok beras tidak ada? Alangkah baiknya uang untuk beli 1 ekor ayam krispi pedas itu disimpan. Namun anaknya, yang sudah menabung berbulan-bulan dan bertahun-tahun tak ingin menundanya lagi.
Dia tahu kondisi meja makan di rumahnya seperti apa dan bagaimana ibunya akan merespon jika dia diketahui oleh ibunya mewujudkan keinginannya itu. Baru setelah dia memutuskan untuk kesekian ribu kalinya sore itu. Dia memberanikan diri untuk menjadi egois. Walau sebagian dirinya masih tenggelam ke dalam jurang rasa bersalah karena mengabaikan kondisi meja makan di rumahnya itu. Namun sisi kecil dirinya sudah muak. Mereka yang selalu mengalah selama ini dan akhirnya ingin diperhatikan. Dan sore itulah waktunya.
“Tidak masuk akal untuk menabung selama itu hanya untuk seekor ayam krispi pedas, Kek. Ayam krispi pedas tak semahal itu walau 1 ekor.” Tatapan kakeknya berubah sendu. Walau tetap memikul senyuman.
Selama itu, dia sudah lama mengumpulkan lebih dari apa yang dia butuhkan untuk mewujudkan keinginannya. Namun dia merasa sia-sia untuk menghabiskan uang itu untuk membeli keinginan nya yang amat ‘mahal’ di kondisi itu. Jadi dia menundanya. Terus menunda-nundanya karena takut ada kebutuhan yang mendadak dan ia sudah menggunakan uang itu untuk kesenangannya yang ia rasa amat remeh itu.
Waktu itu dia tak akan mau merasakan penyesalan untuk menggunakan uang yang telah lama ia kumpulkan susah payah sendirian untuk mewujudkan tujuannya mengumpulkan uang itu. Hanya karena dia merasa bersalah untuk membeli apa yang disukainya dengan senang. Karena dianggap tidak menyesuaikan dengan kondisi meja makan rumahnya.
Dia takut untuk disalahkan lagi. Tidak, dia bahkan takut untuk salah. Dan sebelum semua itu terjadi, dia memutuskan untuk menundanya. “Ah, hanya makan ayam belaka. Bukannya aku belum pernah makan ayam pedas sebelumnya.” Kemudian dia menghadapi suatu masalah hingga ia harus menggunakan semua uang simpanannya. Semuanya bagai siklus tak berujung, tanpa awal, tanpa akhir. Dan sore itu, adalah kesekian kalinya ia berhasil mengumpulkan uang untuk membeli ayam krispi pedas.
Namun sore itu, ia akhirnya benar-benar membeli ayam krispi pedas. Walau nikmatnya beriringan dengan jerat moral yang meledak-ledak.
“Tapi kenapa ia begitu setengah-setengah, Kek? Tidakkah ia sudah dewasa? Kenapa tidak ber-emosi sepenuhnya dan makan dengan gembira? Toh iya tahu apa yang dilakukannya. Orang dewasa terkadang benar-benar suka memperumit hidup.”
“Terkadang, beberapa rangkaian kata indah tak bisa sepenuhnya melimpah-ruahkan emosi seorang manusia kepada dunia. Beberapa adegan dan pemikiran harus dialami untuk bisa dimengerti. Tapi kalau kamu bisa mengerti, maka itu jalan pintas untuk mengambil pelajaran dalam pengalaman manusia lain.
Manusia muda itu diam. Merenung. Dalam hatinya ia tahu, mungkin di masa depan dia juga menjadi salah satu manusia kusut di meja makan, mungkin juga dia menjadi manusia yang bertele-tele ber-emosi. Dan banyak kata “kenapa” dan “bagaimana” yang muncul namun jawabannya tidak selalu dikehendaki, hingga nanti jadi dilema. Manusia kecil itu mengucap keningnya, nanti saja, pikirnya. Dia masih kecil, biarlah masalah dan dilema dia tinggalkan untuk dia pikirkan di masa depan.
