Kapan Bapak Jualan?
Menurut cerita, waktu itu ada yang membeli dagangan pak Darsim. Seperti biasa pak Darsim melayani dengan ramah dan senyum. Sebagai pedagang tentu ia girang dagangannya dibeli. Satu persatu pembeli itu dilayani. Dan dalam sekejap dagangan es kelapanya hampir ludes. Kebahagian pak Darsim semakin menjadi karena selain uang sudah terkumpul dan dagangannya habis, ia juga bisa pulang cepat ke rumah. Pak Darsim pun duduk santai sambil merapikan uang yang sudah didapatnya.
Awal mula masalah mengampiri pak Darsim ketika ada dua orang laki-laki berbadan besar mendatanginya. Tanpa bertanya dan tanpa berbicara kedua lelaki itu menendang keranjang es pak Darsim sambil mengeluarkan kata-kata kasar.
“Kamu coba menipu ya?”
Lelaki berseragam coklat dengan pangkat di bahunya melontarkan pertanyaan kepada pak Darsim. Namun belum sempat pak Darsim menjawab ia sudah menjulurkan tangan ke dalam keranjang dagangan pak Darsim dan mengambil sebuah es kelapa yang masih dibungkus.
“Sekarang kamu yang makan!”
Lelaki itu menyodorkan es kelapa itu ke mulut pak Darsim.
Mendapat perlakuan seperti itu, pak Darsim kaget.
“Ada apa ini pak?”
“Jangan banyak tanya, makan saja itu!”
Lelaki satunya yang memakai baju kaos oblong membentak pak Darsim.
Karena ketakutan yang sangat luar biasa dan juga demi menjaga keselamatannya, dengan terpaksa pak Darsim memakan es kelapa yang merupakan dagangannya itu.
Kedua lelaki itu memperhatikan dengan seksama ketika pak Darsim memakan es kelapa itu. Mereka menunggu reaksi yang akan terjadi terhadap pak Darsim. Namun sampai es kelapa itu habis, pak Darsim tetap seperti biasa.
Kedua lelaki itu saling pandang. Mereka heran kenapa pak Darsim tidak apa-apa. Padahal tadi ada laporan bahwa es kelapa pak Darsim berbahaya karena diduga terbuat dari kelapa busuk.
“Kami minta maaf pak ya.”
Dengan rasa malu dan bersalah kedua lelaki itu mengatupkan kedua tangan di dada menghadap pak Darsim.
“Kami sudah semberono.”
Pak Darsim bertambah bingung. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Tubuhnya masih gemetar. Tangannya tidak bisa bergerak. Peristiwa beberapa saat tadi sangat membuatnya terpukul.
“Tolong jangan dilaporkan ya pak!”
Lelaki berseragam itu kembali memohon kepada pak Darsim.
Pak Darsim masih diam. Wajahnya masih tampak pucat. Kerutan hitam di wajahnya bertambah jelas.
***
Sore itu pak Darsim dan anaknya kembali duduk di teras. Mereka kembali memperhatikan sepeda ontel dan keranjang dagangan yang masih di posisinya.
“Kapan bapak jualan?”
Kembali sang anak bertanya kepada pak Darsim. Tapi pak Darsim tetap konsisten dengan kebisuannya ketika ada pertanyaan itu.
***
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
