Ramadan dan Vespa Tua
Oleh: Alpendi — Pengajar di SDIT Alam CAHAYA, Toboali
Di ujung selatan bagian pesisir pantai sebuah desa sunyi,
Berdiri rumah bambu, rapuh dan sepi.
Di terasnya diam, penuh debu dan retak,
Sebuah Vespa tua bernama kedadak.
Ia bukan sekadar motor usang,
Tapi saksi bisu perjalanan panjang.
Dulu, bunyinya nyaring memekakkan,
“Dak-dak-dak!” jadi tanda kedatangan.
Pemiliknya Lintang, pemuda sederhana,
Tinggal bersama istri nya.
Kini Ramadan telah memasuki hari keenam,
Angin sore berhembus sejuk dan temaram.
Sore itu datang seorang kakek tua bertongkat,
Bertanya pelan dengan suara bergetar,
“Kenapa motor itu kau beri nama kedadak?”
Lintang pun tersenyum, menoleh dengan sabar.
“Itu sahabatku sejak lama,
Menemaniku ke penjuru tempat yang kusuka.
Suaranya nyaring penuh cerita,
Seperti zikir yang tak pernah sirna.”
Ban kempes, cat mengelupas,
Joknya kusam, sarang laba-laba tak lepas.
Namun Lintang tak ingin pasrah,
Ia membersihkan dengan hati yang tabah.
Di hari keenam bulan Ramadan,
Ia berniat memberi kejutan.
Ingin menghidupkan kembali Kedadak,
Untuk mengantar takjil ke rumah-rumah tetangga.
