Kakek tua ikut membantu,
Meski lutut ringkih dan tangan gemetar.
Di bawah pohon mereka berpadu,
Dengan obeng tua dan semangat besar.
Dua pekan berlalu perlahan,
Doa dipanjatkan setiap selesai tarawih di masjid.
Akhirnya hari itu pun datang,
Harapan yang lama terpendam terbayang.

Lintang mengengkol — mesin berderak,
Semua terdiam.
Dan tiba-tiba terdengar lantang:
“Dak-dak-dak!” memecah senyap yang lekat.
Kedadak kembali hidup,
Suaranya menggema ke penjuru dusun.
Anak-anak bersorak penuh haru,
Seolah menyambut kawan lama yang bangun.

Menjelang waktu berbuka puasa,
Lintang dan kakek membagikan kurma dan kolak sederhana.
Menyusuri gang kecil penuh cahaya,
Dengan hati lapang penuh bahagia.
Di jalan kecil yang mereka sebut kenangan,
Vespa tua itu kembali jadi harapan.
Bukan sekadar kendaraan,
Tapi pengingat bahwa Ramadan
Menghidupkan bukan hanya mesin,
Namun juga hati yang lama diam.

Baca Juga  Didit: Dirut PT Timah Jangan Buat Provokasi di Bulan Ramadan