Oleh: Indra Pirmana — Guru di SMP Negeri 5 Payung/ Ketua MGMP Bahasa Indonesia Rayon 2 Bangka Selatan.

Menulis dapat diartikan dengan membuat huruf, angka, dan sebagainya. Menggoreskan pena kemudian bisa melahirkan pikiran atau perasaan misalnya membuat tulisan fiksi maupun non fiksi dan tulisan yang lainnya.

Menulis bukan instan dalam sekejap. Tetapi tulisan hadir seperti air mengalir karena membaca. Apakah membaca harus tiap waktu? Tentu saja tidak. Namun, harus bisa membaca di saat ada waktu luang walaupun hanya hitungan menit dan konsiten misalnya ada agenda Sabtu membaca, Minggu menulis bahkan satu hari satu paragraf.

Seseorang tidak akan hebat menulis apabila tidak membaca. Membaca wajib diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang efektif.  Dengan membaca akan terbiasa dengan gaya bahasa yang akhirnya melahirkan tulisan diawali huruf, kata, kalimat, dan menjadi sebuah paragraf kemudian seiring berjalannya waktu akan menjadi sebuah buku.

Baca Juga  Urgensi Pemahaman Harta Gono-gini sebelum Menikah dalam Perspektif Hukum Islam dan Peradilan Agama

“Pepatah mengatakan sedikit demi sedikit kalau dikumpulkan akan menjadi bukit”.

Penulis mengambil judul “Siapa Pun Bisa Menulis” karena menulis bukan bakat bawaan sejak lahir, melainkan menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dengan  latar belakang berbeda. Setiap manusia memiliki pengalaman pribadi yang unik dan karakter yang bahkan bisa dituangkan menjadi sebuah karya.