Siapa pun dapat menjadi penulis asalkan ada keberanian. Soal tulisan hebat tidaknya tergantung orang yang menilai jangan ada rasa cemas harus percaya diri.

Konteksnya dapat diartikan tidak jauh berbeda seperti manusia dilahirkan tidak membawa apa-apa. Tetapi, dengan perjuangan yang keras akhirnya apa pun bisa didapatkan begitu pun dengan menulis.

Tulisan bisa dikenang walaupun penulisnya sudah tiada. Artinya apa? Penulis mempunyai batas usia dan sampai kapan tidak ada yang tahu. Tetapi tulisan yang sudah terbit walaupun hanya beberapa paragraf akan menjadi sebuah keabadian yang tersimpan rapi baik melalui media online dan cetak mau pun yang ada di perpustakaan daerahnya masing-masing.

Ada beberapa poin penting menurut Pramoedya Ananta Toer tentang menulis:

  1. Bekerja untuk keabadian: Menulis membuat pikiran dan ide tetap hidup selamanya.
  2. Melawan kelupaan: Tanpa tulisan, orang pandai akan hilang di masyarakat dan sejarah.
  3. Jejak warisan: menulis sebagai sarana meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi mendatang.
  4. Komunikasi lintas waktu: tulisan memungkinkan penulis berdialog dengan pembaca yang belum pembaca kenal.
Baca Juga  Menyaksikan Perjalanan Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan (Catatan Seorang Jurnalis)

Mengapa harus menulis? Melalui tulisan dapat membangun sistem kepercayaan bahkan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan bahkan melestarikan sejarah yang ada di daerahnya seperti buku Pertempuran Toboali (1812-1850) oleh Dwikki Ogi Dhaswara.

Selain itu ada bebrepa buku karya penulis Bangka Selatan sebagai sampel yang sudah terbit dengan judul:

  • Pembulak oleh Rusmin Sopian
  • Mengeja Laut oleh PWI Babel
  • Kumpulan Pantun Diri oleh Yoel Chaidir
  • Cinta di Bawah Tudung Saji oleh Toni Pratama
  • Sosial Kultural Masyarakat dalam Pembentukan Budaya Organisasi Pemerintah oleh Hendrawan
  • Sang Usang oleh Dwikki Ogi Dhaswara
  • Guru Penerobos oleh Yudi Saprianto
  • Supervisi Pembelajaran Teknik Coaching oleh Jasman Jalil
  • Good Charakter Pengamalan Program Tujuh Sunnah Harian Rasulullah saw oleh Supiandi
  • Analisis Struktur dan Kebahasaan Teks Sastra oleh Ahmad Gusairi
  • Adversity Quotient: Profesinalitas dan Karakteristik Guru, serta Iklim Kerja Sekolah oleh Ponco Hardiyanto
  • Petualangan Ade oleh Ummi Sulis
  • Goresan Tinta Seorang ASN oleh Abdul Rahman Nasir
  • Sapatha dari Negeri Seberang oleh Dian Chandra
  • Negeri Junjung Besaoh dalam Alunan Melayu oleh Sispurwanto
  • Belajar dari Maha Guru oleh Yanto
  • Namaku Antariksa oleh Agustian Deny Ardiansyah
  • Filosofi Diri oleh Aryanto, dkk
  • Cahaya untuk Generasi, Inspirasi Pendidikan, Keluarga dan Keimanan oleh Abdussalam Al Ghozali, dkk
  • Lawang Uma oleh Rapi Pradipta
  • Lukisan Sayap Kehidupan oleh Siswati
  • Jejak Sebuah Harapan oleh Jesica Dresia
  • Catatan Rindu oleh Khoiriah Apriza
  • Baca Buku Ini Jika Ingin Juara Baca Puisi oleh Indra Pirmana
  • Isu Pendidikan Terkini dan Solusinya oleh Rudiyanto
  • Khayalan dalam Untaian Kata oleh Putri Rahmawati
  • Antologi Puisi Tinta Suara Hati oleh para guru bahasa Indonesia di rayon 2 Bangka Selatan
Baca Juga  Pelajaran dari Indra Pirmana

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siapa pun bisa menulis dengan karakter yang berbeda dan waktu yang cocok kapan untuk menulis. Apabila saat menulis ada kesalahan itu adalah proses belajar, belajar, dan belajar.  Karena melalui latihan seseorang suatu saat akan mencapai puncaknya. Sesuai contoh   para penulis Bangka Selatan sudah ada yang menulis satu judul bahkan ada yang puluhan judul kemudian ber ISBN.

Para penulis di atas mengikuti acuan cara menulis sebuah tulisan yang sistematis sehingga tersusun rapi. Oleh karena itu, jangan biarkan tinta mengering selama masih ada yang berjualan di tempat ATK misalnya fotokopi karena menulis sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan berbagi pengalaman. Namun zaman sekarang sudah canggih bisa langsung menulis indah dilaptop, gawai dan lainnya sesuai perkembangan zaman. Maka dengan memiliki niat dan meluangkan waktu walau pun hitungan menit melalui tulisan akan menjadi sebuah karya.

Baca Juga  Petani Sawah dan Masa Depan Kita