“Dan Kami wahyukan kepadanya…”

Di sinilah Al-Qur’an menggeser fokus dari tragedi menuju rahmat. Pertolongan tidak datang dengan mengangkat Yusuf keluar seketika. Ia tidak langsung diselamatkan. Ia tidak dipindahkan ke tempat yang nyaman.

Apa yang datang adalah penguatan batin.

Dalam banyak penjelasan para ulama, wahyu ini bukan sekadar informasi masa depan. Ia adalah penenang jiwa. Isyarat bahwa peristiwa ini tidak acak. Bahwa ada makna di balik kegelapan. Bahwa yang terjadi bukan akhir.

Bagi seorang anak, ini pelajaran besar. Pertolongan Allah tidak selalu berbentuk perubahan keadaan. Kadang ia berbentuk ketenangan di dalam keadaan.

Yusuf mungkin gemetar. Ia mungkin menangis. Ia mungkin memanggil ayahnya dalam hati. Al-Qur’an tidak menuliskannya, tetapi kemanusiaannya tidak dihapus. Justru keindahan kisah ini terletak pada keseimbangan antara luka dan harapan.

Baca Juga  Jangan asal Olahraga, Ini Hal yang Harus Dipersiapkan saat Olahraga di kala Puasa

Fase “sendiri” ini adalah fase yang paling menguji. Karena ketika figur aman tidak ada, anak akan bertanya dalam diam.
“Apakah aku masih berharga?”
“Apakah aku ditinggalkan karena aku salah?”

Jika fondasi sebelumnya lemah, pertanyaan itu bisa berubah menjadi luka permanen. Tetapi jika di dalam dirinya sudah tertanam keyakinan kepada Tuhan, pertanyaan itu berubah menjadi pencarian makna.

Yusuf tidak diselamatkan dari sumur pada detik pertama. Tetapi ia diselamatkan dari keputusasaan pada detik itu juga.

Dan sering kali, keselamatan dari keputusasaan jauh lebih penting daripada keselamatan dari keadaan.

Tulisan ini mengajarkan kepada orang tua satu hal yang sangat mendalam. Kita tidak selalu bisa mencegah anak jatuh ke “sumur” kehidupan. Tetapi kita bisa memastikan sebelum ia jatuh, ia sudah mengenal Tuhannya.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 25): Ketika Masa Lalu Datang Kembali

Karena ketika semua pelindung manusia hilang, yang tersisa hanyalah hubungan dengan Allah.

Dan Yusuf mulai belajar bersandar langsung kepada-Nya.