Penemuan ini membuat mereka semakin yakin untuk kembali ke Mesir. Mereka mencoba meyakinkan ayah mereka dengan berbagai alasan.

Mereka berkata bahwa mereka akan mendapatkan tambahan bahan makanan dan menjaga saudara mereka dengan baik.

Namun Nabi Ya’qub tidak langsung menyetujui.

Ia meminta sebuah janji yang serius.

“Aku tidak akan melepaskannya bersama kalian sebelum kalian memberikan janji yang kuat kepada Allah bahwa kalian benar-benar akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kalian dikepung oleh musuh.”
(QS. Yusuf: 66)

Janji ini bukan sekadar ucapan biasa. Ini adalah sumpah di hadapan Allah.

Nabi Ya’qub ingin memastikan bahwa anak-anaknya memahami beratnya tanggung jawab ini.

Setelah mereka memberikan janji itu, Nabi Ya’qub menerima keputusan yang tidak mudah tersebut.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 17): Memilih Penjara demi Menjaga Islam

Tetapi sebelum mereka berangkat, ia memberikan nasihat yang menarik.

“Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu gerbang saja, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda.”
(QS. Yusuf: 67)

Sebagian penjelasan tafsir menyebutkan bahwa nasihat ini berkaitan dengan kehati-hatian. Nabi Ya’qub khawatir jika mereka masuk bersama-sama dalam jumlah besar, hal itu bisa menimbulkan perhatian atau bahaya.

Namun setelah memberi nasihat itu, Nabi Ya’qub menambahkan kalimat yang sangat penting:

“Aku tidak dapat menolak takdir Allah sedikit pun. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Kepada-Nya aku bertawakkal, dan kepada-Nya pula orang-orang yang bertawakkal berserah diri.”
(QS. Yusuf: 67)

Di sinilah terlihat keseimbangan yang sangat indah antara ikhtiar dan tawakkal.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 25): Ketika Masa Lalu Datang Kembali

Seorang ayah tetap melakukan usaha terbaiknya. Ia memberi nasihat. Ia mengingatkan anak-anaknya agar berhati-hati. Ia meminta janji yang kuat.

Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Ada wilayah kehidupan yang hanya berada dalam genggaman Allah.

Dalam bahasan parenting, kisah indah ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.

Orang tua sering ingin melindungi anak-anak mereka dari semua bahaya. Namun kenyataannya, ada saat ketika anak harus keluar dari perlindungan rumah dan menghadapi dunia.

Di titik itu, orang tua hanya bisa melakukan dua hal. Memberikan bekal nilai dan selanjutnya menyerahkan penjagaan kepada Allah.

Nabi Ya’qub tidak menahan anak-anaknya karena ketakutan. Ia juga tidak melepas mereka tanpa nasihat.

Baca Juga  Jika Semua Bulan Menjadi Bulan Ramadan

Ia mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan usaha yang bijak dan hati yang bersandar kepada Allah.

Dan mungkin inilah salah satu bentuk kebijaksanaan terbesar dalam menjadi orang tua:
mampu melepaskan anak dengan doa, meskipun hati masih menyimpan kekhawatiran.