“Di sini perlu kita ketahui dulu angka pertumbuhan itu terjadi di sektor mana. Misalnya pada sektor pertanian pertumbuhannya tinggi, tapi angka pengangguran juga tinggi. Artinya, penyerapan tenaga kerja di sektor itu justru berkurang,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi lebih banyak terjadi pada peningkatan produksi, namun tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja.

“Jadi sebenarnya tenaga kerja itu tersedia, tapi tidak terpakai. Walaupun ada pertumbuhan, tapi pertumbuhan itu hanya dirasakan pada level masyarakat tertentu saja,” jelasnya.

Akibatnya, kata dia, sebagian masyarakat belum menikmati hasil dari pertumbuhan ekonomi tersebut sehingga angka kemiskinan justru meningkat.

“Artinya pemerataannya masih kurang, belum menyentuh masyarakat kebanyakan. Sehingga masyarakat kecil belum menikmati hasil pertumbuhan ekonomi itu,” terangnya.

Baca Juga  BPN Serahkan 15.000 Sertifikat Tanah, I Made: 20 Persen Lahan di Babel Belum Terdaftar

Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mengambil langkah strategis agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi dapat dinikmati secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.