Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah yang sangat terkenal

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ – “maka kesabaran yang indah.”

Apa yang dimaksud dengan kesabaran yang indah?

Kesabaran ini bukan berarti seseorang tidak merasakan kesedihan. Nabi Ya’qub tetap merasakan luka yang sangat dalam. Ia kehilangan satu anak, dan kini hampir kehilangan yang lain.

Kesabaran yang indah adalah kesabaran yang tidak disertai keputusasaan, keluhan yang berlebihan, atau kemarahan kepada takdir Allah.

Seseorang boleh bersedih, tetapi hatinya tetap percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.

Itulah yang terlihat dalam kalimat Nabi Ya’qub berikutnya.

“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku.”
(QS. Yusuf: 83)

Perhatikan kata yang ia gunakan “semua.”

Baca Juga  Membangun Kembali Palestina

Ini bukan hanya harapan agar Bunyamin kembali. Di dalam kalimat itu tersimpan keyakinan bahwa Yusuf pun suatu hari akan kembali.

Harapan itu mungkin tampak mustahil bagi orang lain. Bertahun-tahun telah berlalu sejak Yusuf menghilang.

Namun bagi seorang ayah yang bersandar kepada Allah, harapan tidak pernah benar-benar mati.

Dalam banyak tafsir disebutkan bahwa Nabi Ya’qub tidak pernah sepenuhnya percaya bahwa Yusuf telah dimakan serigala. Hatinya selalu menyimpan keyakinan bahwa suatu hari ia akan bertemu kembali dengan anaknya.

Harapan itulah yang menjaga hatinya tetap hidup di tengah kesedihan yang panjang.

Dalam pembelajaran tentang pengasuhan, bagian ini menunjukkan kedalaman hati seorang ayah.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak ketika semuanya berjalan baik. Menjadi orang tua juga berarti mampu menanggung kesedihan ketika anak-anak menghadapi masalah yang besar.

Baca Juga  Mengelola Bisnis dengan Integritas

Nabi Ya’qub tidak memarahi anak-anaknya dengan ledakan emosi. Ia juga tidak memutuskan hubungan dengan mereka.

Ia menahan rasa sakitnya dengan kesabaran yang tenang.

Kesabaran seperti ini tidak mudah. Ia lahir dari iman yang dalam dan keyakinan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia.

Namun kisah ini juga memberi pesan penting. Kesabaran bukanlah tanda kelemahan.

Justru dalam banyak keadaan, kesabaran adalah bentuk kekuatan yang paling tinggi.

Seorang ayah yang mampu menjaga kesabaran di tengah ujian besar sedang menunjukkan kepada keluarganya bagaimana menghadapi kehidupan dengan iman.

Dan mungkin itulah sebabnya kisah Nabi Ya’qub dalam Surah Yusuf menjadi salah satu gambaran paling indah tentang keteguhan hati seorang ayah.

Baca Juga  Dimuliakan Karena Ilmu, Pelajaran Agung dari Kisah Penciptaan Nabi Adam