Senjakala Kepakaran: Lahirnya Era “Pseudo-Expert” dan Runtuhnya Etika Akademik
Dengan AI memungkinkan siapa saja menghasilkan narasi yang terdengar sangat akademis dalam hitungan detik. Inilah yang melahirkan para pseudo-expert. Mereka adalah individu yang piawai melakukan prompting, namun tidak memiliki fondasi ilmu yang kokoh; saat ini banyak sekali orang berbicara tentang perang AS /Israel melawan Iran, mereka “terkesan sangat ahli”, ini sekadar contoh.
Sosiolog Harry Collins dalam karyanya Rethinking Expertise (2007) membedakan antara “keahlian kontribusi” (kemampuan melakukan riset) dan “keahlian interaksional” (kemampuan berbicara seperti ahli). AI telah memberikan “keahlian interaksional” instan kepada semua orang. Para pakar semu ini mengusung narasi tersebut seolah-olah itu adalah hasil perenungan mendalam mereka sendiri, menciptakan pencitraan intelektual palsu yang menutupi kekosongan pemahaman yang sebenarnya.
Media Sosial: Akselerator Kedangkalan
Fenomena ini diperparah oleh algoritma media sosial yang lebih menghargai kecepatan daripada kedalaman. Media sosial menjadi katalisator utama yang mempercepat banalisasi keahlian. Di platform ini, seorang pseudo-expert dengan ribuan pengikut bisa tampak lebih kredibel daripada seorang profesor.
Dalam ruang digital yang hiruk-pikuk, tulisan hasil AI yang rapi dengan mudah menjadi viral. Publik sering kali terjebak pada estetika bahasa dan mengabaikan verifikasi (padahal ini hal sangat mendasar). Media sosial telah mengubah keahlian dari sebuah perjalanan intelektual yang panjang menjadi sekadar konten hiburan singkat yang siap dikonsumsi dan dibuang.
Krisis Etika: Keahlian Tanpa Tanggung Jawab
Di sinilah letak titik nadir dari banalisasi keahlian: hilangnya dimensi etis. Dalam tradisi akademik, seorang ahli memikul tanggung jawab moral atas kebenaran yang ia sampaikan. Pakar semu yang mengandalkan AI sering kali melanggar prinsip etis dasar:
- Ketidakjujuran Intelektual: Mengklaim proses mesin sebagai pemikiran orisinal.
- Pengabaian Akurasi (Halusinasi): Menelan mentah-mentah output AI yang salah tanpa validasi karena ketiadaan “jam terbang”.
- Hilangnya Akuntabilitas: Bersembunyi di balik teknologi saat saran atau analisisnya terbukti menyesatkan.
Penutup: Antara Mesin dan Nurani
Pada akhirnya, jika keahlian hanya diukur dari kemampuan merangkai kata dan mengolah data, maka manusia memang sudah kalah oleh mesin. Namun, esensi kepakaran sejati terletak pada integritas dan kearifan yang lahir dari keringat proses, bukan sekadar ketukan jari pada keyboard.
Bagaimana pun, kita sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Jika kita terus membiarkan para pseudo-expert mendominasi panggung dengan bantuan algoritma dan AI, kita tidak hanya akan kehilangan para ahli, tetapi juga akan kehilangan standar kebenaran itu sendiri. Dunia yang hanya berisi gema suara mesin tanpa kedalaman nurani adalah dunia di mana semua orang merasa tahu segalanya, padahal sebenarnya kita sedang menuju kebutaan intelektual yang masif. Wallahu’alam bissawab.
