Senjakala Kepakaran: Lahirnya Era “Pseudo-Expert” dan Runtuhnya Etika Akademik

Oleh: Sobirin Malian — Dosen Magister Hukum Universitas Ahmad Dahan

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) kercerdasan buatan komputer telah memicu pergeseran paradigma yang radikal yaitu ibarat pedang bermata dua . Di satu sisi, ia adalah alat bantu luar biasa tapi di sisi lain, ia memicu fenomena yang oleh para akademisi disebut sebagai banalisasi keahlian.

Di tengah keruntuhan ini, muncul ancaman baru yang lebih halus namun destruktif: Pseudo-Expert (Pakar Semu) yang berlindung di balik efisiensi mesin, sembari menanggalkan beban etika yang seharusnya menyertai sebuah ilmu.

Kematian Kepakaran dalam Genggaman Algoritma

Fenomena ini sebenarnya telah diramalkan oleh Tom Nichols dalam bukunya yang fenomenal, The Death of Expertise (2017). Nichols memperingatkan bahwa kita sedang berada di masa di mana orang-orang tidak lagi sekadar salah informasi, tetapi mereka secara aktif melawan instruksi dari para ahli. Nichols menyatakan:

Baca Juga  Fenomena Rekening Nganggur 3 Bulan Diblokir, Tanah Nganggur Disita Negara

“Masalahnya bukan hanya orang-orang menjadi kurang cerdas, tetapi mereka merasa bahwa memiliki akses ke internet sudah cukup untuk membuat mereka setara dengan orang yang menghabiskan hidupnya mempelajari suatu subjek.”

Kini, dengan adanya AI Generatif, peringatan Nichols benar-benar menjadi kenyataan yang lebih ekstrem. Jika dulu internet hanya memberi akses ke data, AI kini memberi akses ke artikulasi intelektual.

Topeng Intelektual dan Ilusi Kedalaman