Simfoni Dambus dan Pantun: Catatan Perjalanan Safari Ramadan Unmuh Babel Menuju Pulau Sumedang Belitung
Simfoni Dambus dan Pantun: Catatan Perjalanan Safari Ramadan Unmuh Babel Menuju Pulau Sumedang Belitung
Oleh: Putri Simba
Perahu itu baru saja lepas dari dermaga. Terdengar petikan dambus mengalun pelan, seolah menyapa laut yang luas. Angin pagi berembus lembut, ombak berkilau diterpa cahaya, dan di atas perahu kecil itu, kami tidak hanya memulai perjalanan dalam rangka kegiatan Safari Ramadan, tetapi memulai cerita yang akan selalu diingat sepanjang hayat.
Tepat pukul 09.34 Wib, kami berangkat dari pelabuhan Sadai menuju Pulau sumedang, Belitung, bersama Bapak Rektor, para dosen, serta beberapa mahasiswa. Dan baru saja menapaki perahu kecil untuk duduk suasana langsung dihidupkan oleh alunan dambus dari Bapak Dodi Pranata, M.Pd yang kerap disapa Mang Dahlan, rajanya dambus Babel, sang dosen PGSD Unmuh Babel. Suaranya merdu, mengalun tenang berpadu dengan deburan ombak dan angin laut yang seolah musiknya menjadi pengantar perjalanan hangat dan menenangkan.
Namun, perjalanan ini tidak berhenti pada ketenangan. Justru di situlah keindahannya, bagaimana suasana yang awalnya syahdu perlahan berubah menjadi penuh tawa. Perahu terus berjalan kurang lebih tiga jam di laut, percakapan kembali mengalir lagi. Aku mulai melontarkan satu pertanyaan kepada Bapak Rektor.
“Pak, Bapak kan jago pantun nih, bagaimana, sih, Pak, caranya membuat pantun itu sendiri?” tanyaku kepada Pak Rektor, Bapak Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM.
Dari satu obrolan ringan itulah kemudian semuanya langsung berubah jadi panggung tawa. Bapak Rektor langsung tersenyum, disambut Mang Dahlan, dan bom pantun mulai berbalas tanpa henti, awalnya santai, tetapi lama-lama membuat semua orang tertawa lepas, termasuk aku sendiri.
Rektor:
Buah kuini bukanlah manggis
manalah sama dengan buah belewa
di sini sungguh banyaklah gadis
tapi tak tau bagaimana meminangnya
Mang Dahlan:
Ikan teri ikan belibis
menangkap ikan dikejauhan sana
kalau memang disini banyak yang gadis
kalau boleh tahu berapa meminangnya
Rektor:
Buah manggis bukan sembarang manggis
Kalau manggis belah semangka
Ini gadis bukan sembarang gadis
Jika Abang suka datanglah ke rumahnya
Pantun terus berlanjut sepanjang perjalanan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah letak keistimewaannya. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan kebersamaan. Di tengah laut yang luas, setiap pantun-pantun yang di lontarkan itu berhasil mencairkan suasana, menghapus jarak, dan menghasilkan tawa yang begitu tulus.
Tanpa terasa, setelah melewati panjangnya perjalanan kini kami telah sampai di Pulau Sumedang, Belitung, yang langsung disambut dengan penuh antusias. Anak-anak desa berlari menyambut kedatangan kami dengan melambaikan tangannya begitu pula dengan masyarakatnya.
