Simfoni Dambus dan Pantun: Catatan Perjalanan Safari Ramadan Unmuh Babel Menuju Pulau Sumedang Belitung
Wajah mereka memancarkan semangat rasa ingin tahu yang begitu tulus, seolah kehadiran kami menjadi sesuatu yang sangat mereka nantikan. Mata-mata kecil itu berbinar, penuh harapan dan kebahagiaan sederhana yang diam-diam menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya.
Bapak Rektor pun langsung menyapa mereka semuanya dengan senyum hangat,tanpa jarak, tanpa sekat. Bahkan saat berjalan menelusuri desa, beliau tak henti-hentinya menyapa satu persatu anak-anak yang awalnya hanya melihat dari kejauhan, perlahan mendekat, lalu ikut berjalan bersama. Suasana yang awalnya biasa saja, berubah menjadi penuh keakraban.
Hingga saat tiba di mess penginapan, kebersamaan terus terasa. Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Bapak Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM mengajak mereka bermain sambil belajar tes matematika dengan cara seru, lalu mengenalkan sejarah dengan gaya bercerita ringan mudah dipahami sesuai tingkatannya.
Tawa kecil mulai terdengar, rasa malu perlahan hilang, berganti dengan semangat yang tumbuh begitu cepat. Tak berhenti di situ, setelah bermain, mereka kemudian diajak menuju masjid Al-Mujahidin. Di dalamnya, suasana kembali hidup. Bapak Rektor melanjutkan dengan permainan tebak-tebakan yang mengundang gelak tawa sambil belajar. Anak-anak berebut menjawab, ada yang salah, ada yang benar. Momen itu terasa hangat, seolah masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang penuh kebahagiaan dan pembelajaran.
Di masjid, kegiatan belajar benar-benar terasa. Matematika tidak lagi terasa sulit, sejarah tidak lagi terasa membosankan. Semua dibalut dengan cara menyenangkan, membuat anak-anak larut dalam proses belajar tanpa merasa terpaksa.
Di sisi lain, Kegiatan sosial seperti cek kesehatan gratis, pembagian sembako gratis, hingga sumbangan pakaian layak pakai, menjadi bukti nyata bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang pengalaman, tetapi juga tentang kepedulian. Setiap bantuan yang diberikan disambut dengan senyum dan rasa syukur yang begitu tulus. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur, saat melihat mereka diperhatikan dan dihargai.
Hujan turun perlahan di sore itu. Tak satu pun dari kami mengeluh, tetapi justru rintiknya jatuh lembut, seakan ikut meresapi setiap sudut kebersamaan yang telah terjalin sejak awal. Detik demi detik waktu terus berjalan, saat waktu tiba, suasana kembali begitu hangat. Kami semuanya duduk bersama, menikmati hidangan yang sederhana, tetapi terasa begitu istimewa laksana makanan restoran. Hal ini bukan karena apa yang dimakan, tetapi karena kebersamaan yang menyertainya.
Selalu ada rasa syukur yang mengalir perlahan di setiap suapan, ada kebahagiaan kecil yang tumbuh tanpa disadari. Setelah itu, tausiyah dari Pak Ustadz Muhammad Tohir, S.Hum., M.Pd, juga Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Bapak Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM, mengalun lembut, menenangkan hati di tengah perjalanan penuh cerita.
Malam pun berlalu, hingga akhirnya kami terbangun di dini hari pukul 03.00 Wib, waktu sahur tiba dengan alarm terbaiknya. Canda tawa kembali mengisi ruang bersama Bapak Rektor, para dosen, serta mahasiswa di mana momen sahur yang seharusnya sunyi berubah menjadi penuh kehangatan.
Cerita-cerita ringan di teras, candaan spontan dan tawa yang tak dibuat-buat menyatu begitu saja. Rasanya bukan seperti kegiatan biasa, melainkan seperti keluarga yang berkumpul, saling menguatkan dalam kebersamaan. Setelah sahur kami lanjut beres-beres lalu ke masjid lagi untuk salat Subuh berjamaah.
Setelah salat kami melangkah perlahan menikmati pagi di Pulau Sumedang. Udaranya terasa begitu segar, angin berembus pelan dan suasana yang tenang seolah mengajak kami untuk diam sejenak, merasakan kedamaian Pemandangan alam yang sederhana justru terasa indah seperti mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hal yang besar.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa tepat di pukul 07.00 Wib kami harus kembali ke Sadai. Ada rasa enggan yang diam-diam hadir, seolah perjalanan pulang pun tak kalah berkesan. Dambus kembali dimainkan, kali ini oleh Mang Dahlan sambil bernyanyi, cerita sepanjang jalan di laut biru hingga kami telah tiba kembali di Pelabuhan Sadai dengan selamat setelah sepanjang perjalanan pulang full di hibur penuh girang oleh Bapak Rektor, Mang Dahlan serta para dosen-dosen lainnya yang meningkatkan sejarah kisah mendalam di dalamnya.
