Racun di Telinga Raja
Maka raja pun tersenyum, merasa dipuja,
Tanpa tahu di luar, tanah-tanah menjadi baja.
Sawah mengering, lumbung tinggal debu,
Anak-anak mengeja lapar di pelukan ibu.
Setiap kebijakan lahir dari bisikan sunyi,
Bukan dari keringat buruh yang berbunyi.
Pajak meninggi untuk pesta di balik tembok,
Sementara rakyat mengais sisa di dalam bok.
Raja menjadi tawanan di istananya sendiri,
Diborgol oleh sanjungan yang dibawa sang menteri.
Rakyat sengsara, tertimbun narasi yang indah,
Sebab kebenaran dianggap sebagai langkah yang salah.
Oooh, celakalah negeri yang pemimpinnya tuli,
Hanya mendengar gema dari mereka yang ingin membeli.
Sebab saat rakyat tak lagi punya suara untuk bicara,
Hanya sejarah yang akan mencatat akhir sebuah prahara.
